Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Sep 4, 2016

Sjahrir: Sosialisme, Nasionalisme, dan Demokrasi dengan Diplomasi





Oleh: Nofia Fitri

PENDAHULUAN

Diantara tokoh kemerdekaan Indonesia yang kaya akan konsep-konsep tentang Bangsa yang Merdeka, yang kaya akan pemikiran hasil telaah terhadap sejarah dan hasil analisis dari sekian banyak pemikir-pemikir besar dunia, adalah Sutan Sjahrir, putra Minang kelahiran Padang Panjang dibulan Maret 1909, salah satu penggores sejarah Indonesia yang pernah memimpin bangsa dengan pengabdiannya sebagai Perdana Menteri selama 3 kali di era ketika Indonesia tengah belajar mengadopsi ide-ide Demokrasi yang berbasis kerakyatan. 

Walaupun kaya akan pemikiran-pemikiran politik nan brilian, sosok Sutan Sjahrir yang akrab disapa “Bung Sjahrir” ini dikenal sebagai tokoh pencetus kemerdekaan yang tidak haus akan kekuasaan politik. Kematiannya di Pembuangan, pengalamannya mengarungi kehidupan dari penjara ke penjara, pembelajarannya dari satu kota ke kota-kota lain, serta tulisan-tulisannya tentang Politik, ekonomi sampai ke Puisi dan wanita sungguh pantas mengantarkannya menjadi salah seorang tokoh besar dari Kebangkitan Asia.

Ciri perjuangan sosok Sjahrir adalah perjuangan Sosialisme, Nasionalisme, Demokrasi dan dengan cara damai tanpa kekerasan, juga selalu mengedepankan teknik diplomasi. Sebagian perjanjian-perjanjian Pemerintah Indonesia dengan penjajah diera kolonialisasi dipelopori oleh Sjahrir. Dengan kesadaran bahwa Belanda terlalu kuat untuk dilawan dengan senjata, Sjahrir tahu betul tentang diperlukannya diplomasi damai demi menghindari pertumpahan darah dan korban yang mungkin berjatuhan dari peperangan fisik.


Kehidupan Sutan Sjahrir yang menarik, sejarah pengasingannya, pemikiran serta kepemimpinan politik, serta bagaimana Sejarah menggoreskan namanya sebagai salah satu tokoh politik yang memerdekakan Indonesia dengan perjuangan Sosial-Demokrat yang kala itu mendapat banyak pertentangan dari pejuang-pejuang kemerdekaan yang lainlah yang membuat saya tertarik untuk menggunakan buku Mrazek sebagai review politik yang menurut saya akan memberi banyak manfaat. Karena nuansa pemikiran politik di Indonesia tidak akan bisa lepas dari goresan-goresan Pemikir seperti Sutan Sjahrir.



SOSIAL DEMOKRAT ALA SJAHRIR

“Saya mengelilingi Jawa. Saya dapat menyaksikan seluruh rakyat telah mulai berjuang untuk kemerdekaan... saya lalu tidak dapat mengingkari revolusi yang dipimpin oleh Sukarno. Saya harus menghadapi kenyataan.... “[1]

Bagi beberapa kalangan, biografi Sjahrir karya Rudolf Mrazek dianggap sebagai sebuah “cerita kegagalan seorang anak bangsa.” Menurut Mochtar Lubis, dalam karyanya, Mrazek menggambarkan Sjahrir sebagai “seorang anak manusia, sebagai pejuang politik yang tangguh, tetapi tidak memiliki ambisi yang berkobar-kobar untuk memegang kekuasaan; sebagai pemikir yang tajam; yang punya ambisi besar untuk bangsa dan tanah airnya, dan tidak untuk dirinya sendiri.”[2] 

“Sjahrir: Politik dan Pengasingan” karya Mrazek ini menurut saya adalah suatu karya biografi yang nyaris sempurna dengan sumber yang jelas. Terdiri atas 10 Bab yang dilengkapi juga dengan gambar-gambar ekslusif serta pendapat-pendapat pribadi mereka-mereka yang mengenal Sjahrir secara langsung. Mrazak dengan piawainya mengambarkan bagaimana perjuangan, pemikiran, dan pergulatan seorang Sjahrir sang Pemimpin Politik memberi pengaruh diera perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bagaimana aktivitas Sjahrir sejak kecil, masa-masa ia menuntut ilmu sampai keluar negeri, serta bagaimana Sjahrir di pengasingan, dan dipenjara. 

Poin-poin penting yang menjadi fokus analisis saya dalam buku ini, dikhususkan pada buah pemikiran Sjahrir tentang ideologi Sosial-Demokrat. Ideologi Sutan Sjahrir adalah Sosial-Demokrat suatu cabang Marxisme yang menghendaki pencapaian masyarakat dari bentuk kapital menuju sosialisme kemudian titik ideal yaitu komunisme harus melalui jalan damai dan kelembagaan kapitalisme itu sendiri, salahsatunya melalui Parlemen. Dalam konsepsi Sjahrir, Sosialisme Demokrat, mendekati pemikirian Tan Malaka, hidup adalah proses dialektika yang terdiri atas thesis, antitesis dan sintesa, disinilah pemikiran sosialismenya terjewantahkan. Namun demikian, berbeda dengan Tan Malaka, Sjahrir juga adalah tokoh yang menyadari pentingnya nasionalisme kebangsaan, dan bahwa nasionalisme juga harus berjalan seiringan dengan demokrasi, karena jiwa nasionalisme yang tinggi dapat membawa kepada Fasisme jika tanpa demokrasi. Selain kental dengan Sosial-Demokrat nya, sosok Sjahrir juga diakui sebagai tokoh yang humanis, membenci kekerasan dan anti imperialisme. 

Sosialisme-Demokrat Sutan Sjahrir tertuang dalam bentuk organisasi mulai tahun 1932, ketika Sjahrir dan Hatta baru kembali dari belajar di negeri Belanda dan mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru, sebuah lembaga yang ditujukan untuk pembentukan kader politik kala itu. Berbeda dengan Tan Malaka, perjuangan Sjahrir yang terorganisir dengan organisasi yang dibentuknya, Partai sebagai kendaraan politiknya mengantarkan Sjahrir sebagai salah satu tokoh Pemimpin dengan posisi kenegaraan yang real, yaitu Perdana Menteri. 




KESIMPULAN

Berbeda dengan tokoh-tokoh kemerdekaan lain yang cukup berbau primordial, Sjahrir dinilai sebagai tokoh politik yang jauh dari identitas budaya kelahirannya. Sebagai putra Minang yang lahir dari keluarga cukup berada, Sjahrir betul-betul lepas dari identitas budaya dimana ia lahir dan besar. 

Delapan tahun dipenjara dan 3 kali menjadi Perdana Menteri telah menjadikan sosok Sjahrir sebagai tokoh yang matang dalam berpolitik. Pemikiran-pemikirannya tentang perjuangan yang didasari Sosialisme, Nasionalisme dan Demokrasi pantas mendapat acungan jempol, sekalipun kehidupannya dianggap gagal. Saya pribadi melihat sosok Sjahrir sebagai Pemimpin yang memiliki cukup banyak pengaruh terhadap Presiden pertama RI Soekarno. Kedekatannya dengan Hatta juga memperlihatkan figurnya yang terbuka dan moderat, terutama dalam kesamaan berfikir tentang Indonesia yang merdeka dengan kemandirian. 

(Book REVIEW Rudolf Mrazek, Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 1996)



REFERENSI

1.) Rudolf Mrazek, Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 1996

2.) Herbert Feith dan Lance Castles (Ed), Pemikiran Politik Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1988. 

3.) Rosihan Anwar, Mengenang Sjahrir: Seorang tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisihkan dan Terlupakan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010. 


Footnote:

[1] Wawancara Sjahrir dengan George Kahin 16 Februari 1949.

[2]Pengantar Mochtar Lubis dalam Rudolf Mrazek, Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 1996., hal xv.

No comments: