Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Sep 1, 2016

Demokrasi Radikal Mouffe: Penolakan Terhadap Liberalisme dan Upaya Mewujudkan Demokrasi Substansial


Oleh: Nofia Fitri



Perkembangan demokrasi dari masa ke masa mengalami fase yang terus berubah-ubah. Dari gagasan demokrasi yang berangkat dari akar filosofis tentang ide-ide kebebasan hingga melahirkan Liberalisme, sampai kepada perdebatan antara demokrasi yang substansial dengan demokrasi yang prosedural. Perbedaan model demokrasi tersebut terjadi diberbagai belahan dunia, salahsatunya, karena karakter unik dari masing-masing negara yang ketika menyerap ide-ide demokrasi tetap tidak ingin kehilangan jati dirinya. Sebut saja India sebagai salahsatu negara demokrasi terbesar di dunia yang justru masyarakatnya dibangun atas sistem kelas. Model demokrasi prosedural yang ketara semacam ini, kemudian menuai berbagai macam kritik dari pengusung demokrasi substantif. Diantara kritik atas demokrasi prosedural adalah gagasan demokrasi radikal yang diplopori oleh dua orang pemikir kiri Chantal Mouffe dan Ernesto Laclao.

        Gagasan Demokrasi Radikal Mouffe yang tertuang dalam bukunya “The Paradox Democracy” sebetulnya terinspirasi dari pemikir aliran kanan asal Jerman, Carl Schmitt. Dimana yang membedakannya adalah kritik Mouffe terhadap demokrasi parlementer dan demokrasi konstitusional. Dalam pandangan Mouffe, demokrasi parlementer dan demokrasi konstitusional yang sangat prosedural sesungguhnya hanya mencerminkan fenomena liberalisasi demokrasi. Karena itu menurutnya, demokrasi harus diradikalkan demi mencapai demokrasi yang substansial. Gagasan Mouffe berangkat dari dua konsep utama yaitu adversary dan relasi agonistik.[1] Konsep adversary dipakai Mouffe untuk mengganti konsep “lawan” atau enemy dalam kehidupan politik, dimana dalam demokrasi liberal, lawan atau oposisi sebenarnya memiliki landasan yang sama yang ingin dicapai, yaitu kebebasan dan keadilan. Kemudian apa yang disebut dengan relasi agonistik dalam konsepsi Mouffe adalah hubungan yang terbentuk antar adversary tersebut.


           Apa yang diusung oleh demokrasi liberal yaitu “common good” seperti kesejahteraan, keadilan, dan lain-lain dalam pandangan Mouffe hanyalah serangkaian kepentingan dari kelompok yang berkuasa. Ia kemudian memberikan sebuah pandangan baru dimana menurutnya yang bisa menggerakkan masyarakat bukanlah common good tersebut, melainkan collective passion[2] atau yang ia definisikan sebagai sesuatu yang bisa mendorong seseorang bertindak secara kolektif. Collective passion disini dapat berupa ideologi yang mengikat bersama.



       Dengan demikian, dari pandangan Mouffe, demokrasi saja sepertinya tidak cukup dalam menyatukan begitu banyak perbedaan. Bahkan Mouffe secara terang-terangan menolak konsensus yang menurutnya melahirkan golongan ekslusif dari keputusan yang dihasilkan. Ia menolak konsensus atau dalam hal ini demokrasi deliberatif sebagai sesuatu yang ideal. Mouffe menuntut adanya demokrasi yang memberikan kesempatan besar terhadap setiap kelompok untuk bisa independen. Mouffe menekankan perlunya ditemukan sebuah alternatif sistem yang dapat digunakan untuk mengakomodir semua kepentingan, baik kelompok maupun individu, yang ada di dalam masyarakat.

       Cita-cita Mouffe tersebut agaknya serupa dengan konsepsi Will Kymlicka tentang special representation rights[3] yaitu sebuah sistem yang memberikan ruang kepada semua golongan untuk memiliki wakilnya sendiri. Sistem ini hampir sama dengan Indonesia diera sebelum reformasi atau yang dikenal dengan “perwakilan golongan” dimana kelompok minoritas sekalipun memiliki wakilnya dalam pemerintahan.

      Seperti kebanyakan konsepsi dan pemikiran politik yang lahir dari para akademisi, diantara kelemahan terbesarnya adalah hanya berkutat pada kekuatan ide atau gagasan, dimana rekomendasi aksi nyata dalam mewujudkan cita-cita pemikiran tersebut tidak dapat dipaparkan secara gamblang. Bagi banyak kalangan, Mouffe dalam hanya bermain-main diwilayah filosofis, sementara tidak secara nyata menyentuh wilayah praktis. Namun demikian, apa yang menjadi pemikiran Mouffe tersebut sungguh adalah penolakan yang rasional terhadap demokrasi liberal yang terjadi hari ini, dimana menurutnya tidak menghasilkan keadilan yang merata. Bahwa prinsip demokrasi liberal yang mana proseduralnya dilakukan melalui suara terbanyak menyebabkan suara dan kepentingan kaum minoritas tidak terakomodir.



[1] Chantal Mouffe, The Democratic Paradox (London: Verso, 2000), hal. 102.
[2] Ibid. hal. 103
[3] Will Kymlicka, Multicultural Citizenship (New York: Oxford University Press Inc., 1995), hal.31.

x

No comments: