Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Jul 1, 2014

Exploitasi keUNIX’an Jokowi… Kadang Kita Mencintai Tanpa Perlu Alasan

Oleh: Nofia Fitri

OMG!!! itulah yang terbesit dalam fikiranku ketika melihat bursa calon Gubernur Jakarta diwaktu lalu. Mulai dari pejabat incumbent yang mulai tidak disukai pemilihnya sendiri karena dianggap sedikit arogan sampai pejabat politik yang memangku jabatan –masih berkewajiban- di daerahnya masing-masing, yang saya fikir, singkat saja, sudah berkhianat kepada rakyat, karena tidak menuntaskan pekerjaannya sampai habis. Dan diantara jajaran nama-nama yang sebagian sudah dikenal tersebut, ternyata ada satu keunikan, yang selalu di elu-elukan, mendapat pujian dan sanjungan, dengan sedikit cacian dan begitu UNIX.


Ya… Social Media, setiap harinya dipenuhi berita tentang JOKOWI. Kampanye politik pun menjadi lebih ringan untuk Team Pemenangan Pemulu sang Cagub yang akan memimpin kota Metropolitan dengan sekian ragam masalah yang tumbuh dan berkembang. Publik terkontaminasi aktivitas “political campange”, secara sadar atau tidak sadar turut mengkampanyekan sosok yang dianggap akan memberi “udara” baru untuk tanah Jakarta yang semakin sesak. Poin penting yang harus digarisbawahi,kampanye massa inilah yang turut mensukseskan meluncurnya sang Tokoh UNIX dalam pertarungan Jakarta 1. Sedikitnya, Parpol pengusung boleh berbangga hati, tapi kemenangannya lebih kepada sebuah kemenangan Publik dan Kemenangan Figur UNIX.





Apakah yang menjadikan sosok Pemimpin UNIX dan dicintai adalah sebuah “karakter”? Seseorang bisa saja terlihat begitu berwibawa dengan wajah tampan dan gagah, sehingga ia sepintas mata layak untuk dipercayakan kekuasaan kepadanya, tapi disisi lain, karakter jantan berlebih tersebut akan membuat seolah gaya kepemimpinan otoriter lah yang akan dipraktekkannya. Sayangnya, anggapan tersebut ternyata bertolak belakang dengan presiden kita hari ini. Bagaimana performanya? Apakah sudah cukup tegas beliau dalam menyikapi persoalan-persoalan bangsa? Lantas karakter apakah yang melekat pada sosok Jokowi sesungguhnya? Apakah ia memang dikenal tegas dengan kebijakan-kebijakannya di masa lalu?


Mengapa lantas, sosoknya menjadi seperti “Satria Piningit” untuk kota Jakarta?

Menurut Publik, sosoknya sangat rendah hati dan menyentuh rakyat kecil? sepertinya banyak tokoh-tokoh daerah yang seperti ini. Kesusessannya memberi sejahtera untuk masyarakat Solo? Beberapa prestasi banyak dicetak tokoh-tokoh lain dalam membangun daerahnya, termasuk meningatkan perekonomian dan taraf hidup. Kepedulian akan kesehatan karena program kartu sehat? Ini hanya sebuah program standar yang pasti akan diusung banyak tokoh-tokoh politik untuk melancarkan kekuasaannya kalau mereka peka akan kebutuhan voter. Tradisi blusukan yang menjadi Pioneer? Pada dasarnya setiap model kampanye selalu menuntut si Politisi untuk terjun langsung ke masyarakat. Kisah hidup yang berangkat dari kehidupan sederhana bahkan orang susah? Well, sudah terlalu banyak yang menggunakan isu-isu perjuangan berdarah-darah untuk memperoleh simpati masa. Performanya yang sungguh sederhana, untuk sosok Publik yang setiap inci penampilannya di perhatikan, sang Pemimpin Jakarta yang satu ini tidak pernah ambil pusing? Tapi kan banyak yang seperti ini, lihat sang Menteri yang identik hanya berkemeja putih dan sepatu sporty, hingga sang Pengusaha berpeci.


Coba kita sekilas berpaling ke tokoh asing, sebut saja Ahmadi Nejad, bagaimana ia dicintai selain dibenci. Apapun isu-isu politik yang menghantam kekuasaannya, sosok Ahmadi Nejad selalu menjadi “icon” untuk sebuah kesederhanaan Pemimpin. Yang menjadikannya UNIX adalah kepemimpinan tegas –kalau bukan otoritatif- penentangannya atas dominasi Barat dan pembelaannya untuk Palestina. Lantas, Jokowi muncul sebagai fenomena bak Ahmadi Nejad untuk dunia kah?


Bagi saya, Jokowi dengan dialek lokal yang tampak UNIX untuk Publik, hingga menjadi fenomena untuk Indonesia adalah Pemimpin Alternatif yang diambil dari trackrecords kemajuan-kemajuan daerah, dia benar-benar diinginkan karena ke UNIX’an nya. Anggapan bahwa ia dimenangkan oleh sebuah konspirasi politik besar, adalah sesuatu yang sah-sah saja, that’s it, itulah politik. Satu kontribusi besar dari sosok Jokowi adalah figurnya yang secara tidak langsung telah melahirkan sebuah proses pendidikan politik publik, hingga meningkatkan partisipasi politik itu sendiri. Public terlibat dalam kampanye dengan sebuah kesadaran bahkan begitu bersemangatnya menjadi jembatan visi-misi untuk sampai ke lebih banyak kalangan umum, mereka datang ke TPS tanpa paksaan untuk memilih idolanya. Yang lainnya dari sosok Jokowi, menurut saya biasa saja, justru keunikannya adalah sesuatu yang sudah dikemas, dipaket menjadi sosok “JOKOWI UNIX”.


Popularitas Jokowi hari ini sudah melebihi sosok Selebritas. Dalam kapasitasnya, ia mampu memainkan peran sebagai Politisi, Pemimpin, sekaligus Artis Politik untuk Publik, dan semoga bangsa ini, bukan kebalikannya, menjadikan Artis Publik untuk Politik.


Lagi-lagi pertanyaannya, apa yang menjadikan sosok Jokowi begitu UNIX? Himself is so UNIX :) Singkat kata, yang menjadikan Jokowi begitu UNIX adalah Jokowi itu sendiri, bukan sifat dan AKSI, karena banyak Politisi yang mempraktekkan apa yang ia lakukan, tapi jelas mereka bukan Jokowi. .. So Politican… just be yourself!




Catatan: Kalian para pengguna open source linux operating system pasti sudah tahu bagaimana melihat sosok Jokowi sebagai UNIX, karena kita tidak perlu alasan untuk mencintai UNIX.

Sumber gambar: 

http://assets.kompasiana.com/statics/files/2014/03/139607174464676128.jpg


1 comment:

Anonymous said...

Indonesia butuh hawa baru. pemimpin tegas itu sudah terlalu banyak, tapi tetap saja korupsi. Mungkin rakyat haus akan pemimpin yang berbeda. Dengan terpilihnya 'orang yang UNIX' tersebut, rakyat 'berharap' ada perubahan. Ya, berharap!