Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Jul 15, 2014

Berpolitik: Artis Juga Manusia


Oleh: Nofia Fitri

“Apakah artis berfikir bahwa sibuknya mengurusi bangsa sama dengan melakukan shooting striping yang membuat mereka lelah karena kadang tidur hanya tiga atau empat jam sehari. Apakah artis berfikir bahwa mengurusi negeri sama dengan melakukan shooting iklan yang waktunya sebentar akan mendapat fee yang ’Nauzubillamindzalik’. Atau artis berfikir bahwa kritik-otokritik adalah bagian dari membongkar privacy mereka seperti kebanyakan terjadi dalam dunia infotaiment setiap harinya, mewarnai dunia pertelevisian dan tidak jarang membuat muak beberapa kalangan. Lalu bagaimana artis dapat menghadapi dan menyikapi demonstrasi mahasiswa, mungkin mereka akan menganggap AKSI sebagai tontonan dan hiburan untuk mengurangi tingkat stres mereka.”

“Mendekati tahun 2014 sebagai ajang Pesta Demokrasi terbesar di Indonesia, banyak kalangan memanfaatkan momentum tersebut untuk mencari ruang profesi baru. Dari menjadi Anggota Komisi Pemilihan Umum, Pemilik/Pengelola Partai, Broker Politik, Timsus, Jurkam, sampai mengkampanyekan diri sendiri untuk tujuan menjadi ‘Wakil Rakyat’ yang akan duduk diparlemen dari tingkat kabupaten, provinsi, sampai nasional. Tidak terlepas kaum selebritas ikut mengambil porsi, yang sesungguhnya mengundang skeptisisme masyarakat.”




Pada Pemilu periode lalu, kalau bukan karena menjadi moderator diskusi yang menghadirkan Permadi dalam sebuah forum tentang Anak Muda, mungkin aku tidak sempat berfikir bahwa artis tidak layak memangku profesi sebagai politisi. ’Artis, ya ngartis aja, ngapain pake nge-politik - nge-politik segala, nanti pada akting semua lagi anggota Parlemen kita’.

Sungguh, Pemerintahan dan Kepemimpinan haruslah diserahkan kepada mereka Ahlinya, seperti pesan Nabi.

Dalam beberapa sesi diskusi, bagiku, kehadiran artis hanyalah sebatas polesan parpol untuk memperindah partai-partai mereka. Tujuan politis yang paling memasyarakat adalah sebagai “voter gether” untuk mengantarkan parpol memenuhi batas ambang pencalonan presiden. Sementara kepentingan politik paling ekstrim, parpol akan memperalat artis untuk menjalankan visinya dalam parlemen kelak jika mereka duduk sebagai wakil rakyat. Apakah peran itu yang ingin diisi oleh para artis yang penuh percaya diri mendeklarasikan dirinya untuk menjadi wakil rakyat.

Alhasil partai harus memberikan pendidikan politik yang super-extra untuk para artis, mereka harus diberi pelajaran tentang apa itu sistem politik, sistem perwakilan, sistem kepartaian, pemahaman tentang pemilu, representasi politik, hingga Electoral Threshold. Artis harus dikursuskan untuk bisa memahami bagaimana sosialisasi politik terjadi, mungkin mereka akan cukup dipusingkan dengan teori sistem David Easton dalam memahami budaya politik masyarakat yang akan mempengaruhi tingkat partisipasi dalam pemilu. Kemudian teori-teori politik Almond, Dahl, Weber, Parson, Truman, Sartre, Soltau, Laswell, sampai Deliar Noor dan menjadikan buku Miriam Budiardjo sebagai alkitab kedua. Atau bukan tidak mungkin para artis akan menyerah jika mereka diminta untuk menjelaskan klasifikasi strategi defensif-ofensif ala ahli strategi politik  Jerman Schroder, dan menyebutkan hampir tiga puluh opsi model kampanye dalam wacana akademis yang sudah dipelajari mahasiswa politik sejak semester dua perkuliahan.

Lalu wacana apa yang akan artis bawa kelak ketika mewakili bangsa ini dalam forum-forum internasional yang mendatangkan delegasi dengan segudang experience dalam dunia politik. Mereka yang mengemban pendidikan Doktor, lulusan terbaik Oxford, Sorbone, hingga Harvard University. Mereka yang bicara tentang wacana pergerakan bumi dalam banyak perspektif. Mereka yang menguasai banyak teori, mendalami banyak ilmu, menguasai lebih dari lima bahasa dunia, dan telah menghasilkan puluhan buku hasil eksplorasi otak mereka. Apakah artis siap untuk bertatap muka dengan mereka.

Lantas mengapa artis tetap nekat, dan parpol berani mengambil resiko. Kadang aku berfikir, disatu sisi karena artis berduit mungkin mereka menyuntikkan dana yang membuat partai memberikan kepercayaan atau sebaliknya Partai yang mensokong dana demi perolehan suara. Artis bukannya tidak berpendidikan, banyak diantara mereka yang sudah lulusan sarjana strata satu walaupun jauh lebih banyak yang memilih menstop pendidikan formal mereka sampai dibangku SMA dengan alih ingin mengejar obsesi dan profesi dalam dunia keartisan. Artis juga bukan profesi yang tidak terhormat jika mereka menganggap menjadi politisi jauh lebih bergengsi. Aku melihat artis lebih terhormat daripada politisi tak berpengetahuan yang hanya bermodal materi berani bicara soal kepentingan rakyat, dan mengaku memiliki visi tentang Indonesia kedepan.

Tidak sedikit artis yang akan kaget ketika harus menerima kekalahan politik, bahkan cacian akibat keputusan yang menurutnya sudah sebelumnya dipertimbangkan, hingga sejarah memperlihatkan bagaimana artis kemudian mengundurkan diri sampai terjerat kasus korupsi. Juga akan banyak artis yang tiba-tiba jatuh miskin karena besarnya cost yang harus dikeluarkan untuk beralih profesi. Apakah artis berfikir bahwa sibuknya mengurusi bangsa sama dengan melakukan shooting striping yang membuat mereka lelah karena kadang tidur hanya tiga atau empat jam sehari. Apakah artis berfikir bahwa mengurusi negeri sama dengan melakukan shooting iklan yang waktunya sebentar akan mendapat fee yang ’Nauzubillamindzalik’. Atau artis berfikir bahwa kritik-otokritik adalah bagian dari membongkar privacy mereka seperti kebanyakan terjadi dalam dunia infotaiment setiap harinya, mewarnai dunia pertelevisian dan tidak jarang membuat muak beberapa kalangan. Lalu bagaimana artis dapat menghadapi dan menyikapi demonstrasi mahasiswa, mungkin mereka akan menganggap AKSI sebagai tontonan dan hiburan untuk mengurangi tingkat stres mereka.

Sebetulnya naif sekali jika fikiran-fikiran diatas terus mendominasi nalar rasionalku. Sekalipun Permadi pernah menyerukan untuk ’Tolak Caleg Artis’ di Pemilu 2009 lalu. Aku berupaya mengatasi ruang kesempitan berfikir yang menghimpitku. Come on Nofia, artis juga manusia. Mereka memiliki hasrat berkuasa, sama seperti hasrat yang orang dalam profesi lain miliki, artis juga bukan tidak mungkin dianugrahi jiwa kepempinan sejak kelahirannya. Jiwa yang bisa dipupuk seperti selama ini senior kasih dalam materi organisasi ku sebagai aktivis mahasiswa. Artis juga memiliki keinginan untuk belajar, sama seperti hasrat mahasiswa. Artis juga memiliki keinginan dan kepekaan tentang bagaimana mengantar kaum tani dan miskin kota keluar dari masalah yang membuat mereka menderita. Artis juga berhak untuk berfikir idealis seperti pola berfikir aktivis. Artis juga boleh berspekulasi, melakukan pengamatan dan analisis tentang fenomena dunia. Artis juga punya mimpi menjadi delegasi Indonesia dalam kancah politik internasional. Artis juga berhak untuk memperjuangkan rakyat kecil dan mengambil bagian dalam upaya menegakkan keadilan ditanah Indonesia. Artis juga berhak untuk punya aspirasi dan menyalurkan aspirasi mereka. Artis juga berhak untuk ambil bagian dalam perumusan kebijakan dan memonitor agar kebijakan itu dapat berjalan efektif oleh eksekutif. Artis juga berhak untuk bersuara, beropini, dan yang paling membatin dan tidak dapat diganggu gugat, artis juga memiliki Hak Asasi Manusia (HAM) yang menempatkan mereka pada porsi untuk terlibat aktif dalam ruang-ruang politik melalui mekanisme dipilih dan memilih.

Jadi, masihkah artis layak mengajukan dirinya sebagai ’wakil rakyat’. Mengambil porsi dalam pemerintahan dan menjadi representasi dari aspirasi para pemilihnya. Pikirkanlah bagi semua. Sama seperti aku berfikir sebagai mahasiswa yang mendalami ilmu politik dengan prestasi akademis yang cemerlang, hingga menjadi aktivis. Aku yang merintis pengalaman untuk menjadi organisatoris sejati sejak jabatan ketua OSIS di sekolah tingkat pertamaku. Aku yang mengkoleksi ribuan buku, yang setiap malamnya aku baca untuk bisa menggenggam dunia dalam kepalan satu tanganku. Aku yang menghabiskan malam didepan komputer untuk mengolah imajinasiku, dan aku yang berdiskusi ratusan kali dengan ratusan orang yang berbeda untuk bertukar fikiran dan mencuri pengetahuan serta menambah pengalaman. Aku yang terus belajar sampai dapat kurumuskan Indonesia kedepan dalam kontribusi pemikiran yang nyata sebagaimana digoreskan para founding father kita, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Syahrir, seperti para aktivis yang tidak berhenti untuk tetap idealis, dan seperti para politisi yang menjaga iman, pengetahuan dan pengabdian mereka untuk Indonesia.
Karena Artis…. Juga Manusia…


Source Pic: http://depoknews.com/wp-content/uploads/2013/04/Artis-Caleg-2014.jpg

No comments: