Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Dec 19, 2013

Batal S2 di UI, Alhamdulillah Master ke Turki

Aku sangat yakin Allah sedang menyiapkan masa depan ku, namun bukan untuk kuraih, melainkan untuk kubentuk dengan usaha ku, dan aku percaya apapun yang Allah inginkan untuk terjadi, maka terjadilah. Karenanya aku berimajinasi dengan bahasa tentang cerita hidupku, bahwa Allah memberi pilihan dalam fantasi, dan aku diizinkan untuk menciptakan masa depan dengan usahaku. Sampai akhirnya kutemukan fantasiku nyata, lahir dari sebuah imajinasi dan kekuatan bahasa. Dan inilah lintas kisahku.... dari Jakarta menuju Famagusta.

Hidup Adalah Seni Memilih

Utara atau selatan, kiri atau kanan, depan atau belakang, maju atau mundur. Terserah, Pilih!!!! kata Belati dalam puisinya.

Kutandai tiga maskot penting dalam hidupku –paling tidak sampai dengan saat ini- kusimpan dan kukenang sebagai tanda dalam perjalanan pencarian ilmu seorang anak bangsa: kaos Mapaba Universitas Nasional, Kartu Ujian S2 Universitas Indonesia, dan Kunci Kantor Riset Asisten Eastern Mediterranean University/EMU, Turki. Mungkin kelak ijazah studi PhD yang distempel Universitas Glasgow sebagai maskot keempat diteruskan gelar Professor dari MIT sebagai yang kelima, dan akan ada yang keenam, ketujuh dan seterusnya. Lintasannya mungkin akan menjadi begitu panjang namun ujungnya adalah sebuah susunan kata dalam bahasa  “surat perintah legal” untuk melayani rakyat yang dikeluarkan oleh negara, Amiin.

Sejak usia lima tahun, pertama kali aku mengenal bahwa belajar itu menyenangkan, aku selalu memimpikan untuk sekolah keluar negeri sekalipun aku tahu keluargaku tidak cukup kaya untuk mendanainya, bahkan orangtuaku memaksakan menempuh satu tahun Sekolah Taman Kanak-Kanak demi menekan biaya, padahal saat aku tidak diizinkan untuk lulus mengingat umurku baru 4 tahun ketika memasuki Sekolah Dasar. Namun dalam perjalanan hidupku aku selalu percaya “banyak jalan menuju Roma” dan filsafat menuntut ilmuku “sampai ke negeri Cina.” Karenanya dalam pengajian Iqro di Madrasah ku dulu, aku selalu menunggu saat-saat dimana pak Ustad  mengingatkan kami tentang pentingnya menuntut Imu dengan mengutip sang Nabi tersebut.



Ibundaku tercinta kadang melisting hal-hal aneh apa saja yang kulakukan dan menjadi rutinitasku, mulai dari gaya tidur tengkurep, gaya tidur berbantalkan buku, berbahasa Inggris di kamar mandi, sampai berbicara didepan kaca. Tidak berbeda dengan ibu-ibu lain beliau dulu beranggapan kelak aku mungkin akan menjadi seorang selebritis, padahal cita-citaku semasa kecil dulu adalah menjadi astronot. Beberapa kali aku mengganti cita-citaku setiap kali ditanya guru yang berbeda semasa pendidikanku di tingkat sekolah dasar, mulai dari menggantinya menjadi wartawan, sutradara film, kartunis, atlet lari international, sampai terakhir aku sangat ingin menjadi Presiden. Pada akhirnya seorang yang kami percaya petuah-petuahnya berkata “Ia akan keluar negeri mencari ilmu, apapun yang menjadi cita-citanya.” Alhamdulillah sampailah aku kepada cita-citaku, keluar negeri menuntut ilmu.

Ujian S2 Ku

Satu pagi yang sibuk dan tergopoh-gopoh. Tidak boleh lebih dari pukul enam pagi aku harus mencapai bus pertama di halte Metropolitan Mall Bekasi menuju terminal Kampung Rambutan untuk sebuah perjalanan dua jam yang akan mengantarkanku pada salah satu pintu masa depan, itulah yang kufikirkan saat itu. Ujian masuk program Pasca Sarjana Universitas Indonesia akan dimulai tepat pukul sembilan pagi dikampus UI Depok. Dua hari sebelumnya aku sudah mensurvei ruang ujian, mengambil kartu serta menyiapkan peralatan-peralatan tempur yang akan membawaku menjadi pemenang ‘perang fikiran’ itu.

Akhirnya semua kulalui dengan mudah, alhamdulillah bisikku dalam hati sambil membalas pesan-pesan pemberi semangat yang dikirim sahabat-sahabatku. Munandar salah satunya, si pria jangkung yang selalu menjadi tendem sejatiku dalam dunia aktivis, sosok pemimpin ambisius yang tenang dan penuh perhatian. Kami mencintai organisasi, mungkin melebihi kecintaan kami pada diri sendiri. Baginya organisasi adalah nafas dan bagiku organisasi adalah nadi. Kalau saja dapat dibelah dua tempurung masing-masing kepala kami kuyakin akan ditemukan bentuk otak yang nyaris sama, segumpal daging merah bertekstur bagan vertikal-horizontal yang dipenuhi cabang-cabang beranak-pinak, yaitu sebuah struktur organisasi.

Kurang lebih satu minggu, pengumuman penerimaan mahasiswa baru program Master UI pun dipublikasikan, Trims ya Allah namaku tercantum didalamnya. Kesampaikan pada bos sekaligus kakak yang membanggakanku di kantor riset PSIK-Indonesia Kak Hakim, tentang keberlanjutan rencana studi masterku. Setelah mengucapkan selamat, pesannya satu “kamu harus menyesuaikan jadwal kuliahmu dengan jadwal kantor.” Ini akan menjadi hal yang sangat sulit karena studi yang kupilih tidak memberikan ruang cukup untuk kuliah sambil bekerja.

Hidup adalah soal memilih, dulu, hari ini atau nanti. Jika terlalu lama berfikir, maka akan terlambat. Jika terlalu cepat keputusan dibuat, bukan tidak mungkin penyesalan menyusul kelak. Karenanya yang harus dilakukan adalah membuat pertimbangan matang untuk sebuah pilihan yang tepat. Kulupakan opsi untuk bekerja, walaupun sesungguhnya aku cemas untuk kehilangan kesempatan merintis karir sebagai Peneliti, hingga hanya ada dua pilihan saat itu: S2 di Indonesia atau Bekerja di Turki. Melalui internet, aku menemukan keluarga yang membutuhkan kemampuan ku untuk mengajar bahasa Inggris anak mereka. Keajaiban  itu pun akhirnya datang setelah kuhasilkan  keputusan dari istikharah ku dengan beberapa pertimbangan dari orangtua. Kala itu keluarga Turki ku bertanya tentang tujuanku bekerja, dan kujawab “aku ingin belajar bahasa Turki yang nantinya berguna untuk mengajukan permohonan beasiswa Master disana. Professor Serim pun menjawab emailku dengan surat panggilan wawancara untuk pendidikan Master di jurusan Ilmu Komunikasi, Eastern Mediterranean University, Siprus Utara (yang adalah bagian dari Turki).

Itulah hasil dari memahami seni memilih dalam hidup, ketika Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan, disaat itulah pilihan itu muncul dengan menyerahkan keputusan  kepada Nya. Satu pilihan memberikan puluhan kemungkinan, mungkin belajar bahasa Turki, mungkin menjadi Akademisi, dan mungkin meneruskan studi PhD dan mungkin-mungkin yang lain. Karena hidup adalah seni memilih, manusia yang cerdas tahu bagaimana menentukan pilihannya, sepanjang mereka percaya seburuk-buruknya opsi tidak ada yang lebih buruk daripada tidak menentukan pilihan.


Injakan Kaki Pertama di Luar Negeri

Pesawatku akhirnya mendarat di Istanbul-Turki, setelah dua jam di Changi-Singapur dan lima jam di Doha-Qatar, masa-masa transit yang membelangakan kedua mataku tentang betapa luasnya dunia. Menarik nafas sangat panjang, aku bersyukur segala sesuatunya berlalu lancar, setiap bagian tubuhku utuh dan segala propertiku sampai ke locket transfer baggage terkait jadwal terbangku selanjutnya menuju Ercan. Untuk pertama kalinya menginjakan kakiku di tanah Turki, sebuah sejarah besar tentang kejayaan Ottoman sang penakhluk Eropa. Turki yang mempersona, sebuah catatan sejarah tentang penakhlukan Islam terbesar didunia, aku yakin salah satu alasan Uni Eropa sulit menerima keanggotaan Turki adalah karena mereka pernah bertekuklutut dikaki kaum Turks. Kaum Turks boleh berbangga dengan sejarah mereka, kelak aku berharap sejarah hidupku pun membanggakan bangsaku, dan tiada yang lebih pantas disyukuri selain mempercayai keberadaan Nya yang selalu bersamaku.


Ketika meninggalkan bandara Soekarno Hatta, yang terbesit dibenakku adalah “aku pasti kembali” dan ketika menginjakkan kakiku di Istanbul yang terbesit dibenakku adalah “Sambut aku datang.” Ada tiga loket kala itu, satu loket menuju Eropa, satu loket masuk Turki, dan loket terakhir satu loket kembali pulang. Kembali aku dihadapkan dengan persoalan memilih, namun tentu saja kali ini lebih mudah hanya perlu melangkah maju sesuai dengan alur yang sudah terbentuk.  Sesudahnya akan ada loket-loket yang lainnya, kembali aku dihadapkan dengan pilihan dan sekali lagi karena hidup adalah seni memilih, manusia yang cerdas tahu bagaimana menentukan pilihan. Loket tersebut pun akhirnya membawa aku pada keluarga baru, keluarga Serim, dan sebagaimana misi ku mempelajari bahasa, aku pun memperoleh guru bahasa terbaik ku, Yigitcan Serim.

3 comments:

Anonymous said...

nice

Nofia Fitri said...

makasiiii :)

Anonymous said...

bagus sekali sobat,, menginspirasi..
jadi master ke turki, sapa yang gak mau.h.aha
domino 99 | domino99 online