Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Dec 21, 2013

Demokrasi, Pers dan Ruang Publik

Oleh: Nofia Fitri


Nafas jurnalisme adalah ‘freedom of Speech’ dan ‘freedom of information’ yang tidak lain juga berdiri sebagai prinsip-prinsip tegaknya demokrasi. Dengan demikian negara yang demokrasi adalah negara dengan peran-peran pers yang aktif dan memiliki ‘kebebasan’ dalam menjalankan fungsi-fungsi jurnalistiknya.


Demokrasi memberi ruang seluas-luasnya untuk kebebasan yang beretika dan bertanggungjawab. Dalam hal ini, media pers sebagai salahsatu pilar demokrasi memiliki peran mentransformasikan ‘informasi’ demi memberikan pendidikan kepada publik dengan mengedepankan akurasi informasi dan tentu saja ketidakberpihakkan atau netralitas media. 

Terpusatnya perhatian masyarakat Indonesia kepada trend demonstrasi menjelang keputusan kenaikan harga BBM belakangan ini secara tidak langsung juga mencukil kembali peran kuat media-media pers yang diharapkan dapat menyampaikan informasi dari sumber berita kepada publik. 



Negara Demokrasi: Antara Demonstrasi dan Ruang Publik

Setelah kurang lebih satu minggu media cetak dan media elektronik diwarnai potret-potret demokrasi Indonesia. Satu pertanyaan yang muncul dalam kapasitas ruang publik yang kritis adalah “bagaimana media menjaga netralitasnya dalam isu BBM?”

Ruang publik idealnya menjadi sarana yang memfasilitasi bertemunya rakyat dengan para pembuat kebijakan. Menurut Habermas, diantara ruang-ruang publik yang sesungguhnya mampu memediasi kepentingan-kepentingan rakyat untuk bertemu dengan kebijakan negara adalah media, dalam hal ini pers. 

Di sebuah negara yang demokratis, Pers bahkan menjadi alat yang ideal untuk memediasi bertemunya aspirasi rakyat dengan para pembuat kebijakan. Informasi yang ditransformasikan oleh Pers kepada publik menjadi ‘kunci’ dimana demokrasi bisa berlangsung dengan memfasilitasi satu bentuk ‘penalaran public’ (Public Reassonning). 


Peran Media Pers sebagai ‘Tranformer’ Informasi

Prinsip netralitas dan independensi media dalam menyuarakan aspirasi publik seiring dengan kepiawaian mereka menyajikan informasi yang dikemas menarik dalam berbagai bentuk seperti live report, wawancara, sampai kepada diskusi interaktif yang memfasilitasi bertemunya narasumber kompeten dengan penonton sebagai konsumer.

Selama Media Pers memainkan peran-perannya sebagai pengawal demokrasi, suatu masyarakat yang terinformasikan dapat mewujudkan kehidupan masa depan yang lebih baik. 

Karena dirasakan perlunya penguatan kontekstual dan isu-isu kekinian, perhatian masyarakat mulai mengkerucut kepada perlunya kembali memberi ruang untuk perdebatan isu-isu demokrasi di wailayah konseptual dan semakin mengglobalkan wacana demokrasi yang didasarakan kepada kebutuhan akan masyrakat dengan kultur yang berbeda.










Peran Media Pers sebagai Pilar Demokrasi






Sebagai salahsatu pilar demokrasi, peran media yang mengedepankan jurnalisme perdamaian dipandang perlu untuk mendukung terwujudnya masyarakat multikultural yang harmonis. 






Diantara yang dapat dilakukan media adalah memediasi terbentuknya ruang-ruang publik yang dapat menstimulus terjadinya resolusi konflik melalui pemberitaan peristiwa yang komprehensif, menghormati norma-norma rasa kesusilaan masyarakat dan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. 









Serta yang terpenting adalah memfasilitasi semua pihak dalam masyarakat dari elemen yang berbeda untuk bisa menyuarakan aspirasi dan berekspressi sebagai bentuk partisipasi berdemokrasi.

No comments: