Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Nov 22, 2012

“Spirit of Hacktivism” adalah Kemanusiaan: Tentang DDoS Indonesia?



Seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya, mencoba memberi pemahaman, bahwa kawan-kawan perlu melihat “Tulisan” ini. Tulisan yang menjadi “Akar” dari status-status facebook ku yang ternyata diterima kawan-kawan tidak sesuai dengan ekspektasiku. Padahal ‘status’ --- > (DDoS adalah kerjaan lamer, dan truly "Unethic" ??? Hmmm wait... I am doing my analysis... :D) ini bertujuan untuk mendengar isi-isi kepala kalian (lihat 3 buah tanda tanya disana dan ungkapan “aku sedang menganalisa” dalam bahasa inggris), tapi karena kawan-kawan sudah terlalu emosi, jadilah dianggap “sensasi lagi sensasi lagi.” :D..

ini tulisannya...





“Spirit of Hacktivism” adalah Kemanusiaan:
Tentang DDoS Indonesia?

Terkait aksi DDoS kawan-kawan hacker Indonesia, aku sangat appresiasi dengan aksi yang dilakukan, menurut ku itu adalah “sikap” dan “idealisme” di dunia maya. Tapi persoalannya bagaimana kita menyampaikan kepada kalangan Publik, dari masyarakat biasa sampai Akademisi, bahwa aksi yang disebut “ilegal” tersebut (bahkan beberapa kalangan menyebutnya identik dengan “lamer”) sesungguhnya adalah bentuk “keberpihakkan kepada kemanusiaan.”  

DDoS itu jelas ilegal, tidak bisa di pungkiri! tapi ada cara untuk membuat orang "mengerti" mengapa aksi itu dilakukan. Terfikir kah oleh kita, bagaimana kita seharusnya merespon mereka yang menanggapi aksi semalam "sebagai aksi lamer" dengan tetap bijak dan menggunakan argumen yang tepat..
 

Motif dan argumentasi yang tepat dapat menjadi “cara untuk mencerahkan” masyarakat di dunia maya tentang aksi DDoS itu sendiri.

Bagaimanapun kawan-kawan menyebut, dengan alasan apapun, untuk kemanusiaan kah, untuk solidaritas kah, aksi semalam adalah “Haktivism”.. Kenapa Hacktivism?  Dan “apa itu Hacktivism?”. Kita kembali ke akar hackitivism.

Hacktivism adalah aksi-aksi di dunia maya dengan menggunakan ‘skill hacking’ untuk ‘tujuan-tujuan politis.’ Pernikahan antara hacking dan politik inilah yang kemudian melahirkan aksi-aksi seperti "Defacement" menyerukan pembebasan Palestina, memperjuangkan kebebasan di internet misalnya, atau... aksi DDoS itu sendiri.

Konflik di Palestina adalah konflik Politik, apapun alasan untuk terlibat dalam aksi DDoS Anonymous adalah “Sebuah Aksi politis” karena mencoba untuk menekan terbentuknya konsensus untuk menghentikan Perang, sampai kepada keinginan untuk memutus sejarah panjang pencaplokan Zionisme.


Tentang HACKTIVISM??

Persoalannya, apakah kita sudah cukup mengenal apa hacktivism dan bagaimana esensinya?.. Yang sangat disayangkan, mungkin sebagian pelaku-pelaku DDoS semalam, tidak tertarik dengan pengetahuan politik, bahkan sebagian kita membenci dan “muak” dengan politik. Atau sebaliknya, justru kawan-kawan pelaku DDoS adalah mereka yang sudah sangat mengenal konflik di Palestina adalah tentang penjajahan atau kolonialisasi modern dalam konteks politik itu sendiri...

Lalu bagaimana berargumentasi tentang aksi DDoS itu sendiri dalam perpektif Hacktivism?


Ini POLITIK Kawan

Jika betul-betul mengenal bagaimana politik, ada garis-garis terlanggar yang dianggap sebagai keabsahan, misalnya berdemonstrasi dengan anarkis, ini adalah bagian dari konsekuensi politis tentang perubahan yg harus mengeluarkan modal. Revolusi tidak bisa dicapai tanpa menguras sedikitpun harta negara! (see revolusi Islam Iran atau revolusi-revolusi lain di Timur Tengah dan negara2 Latin).

Nah sekarang, seperti kalimat “ini politik kawan”.. kembali ke garis-garis terlanggar tadi, idelisme itu mengakar sebagai sebuah pegangan para penggerak perubahan, tapi bagaimana mungkin membatasi diri untuk tidak merusak pagar kokoh yang memisahkan wakil rakyat dengan ‘aspirasi’ rakyatnya sendiri, kalau para wakil rakyat tersebut ‘enggan’ /tidak menerima Mahasiswa untuk berdialog (perumpamakan ini dalam aksi DDoS, apakah DDoS itu? ketika Israel tetap keras kepala dengan aksinya menyerang Gaza).

Sama seperti mahasiswa yang menghancurkan pagar gedung Dewan Terhormat sebagai bentuk “pemberontakan” itulah aksi DDoS dapat dipahami sebagai bentuk “perlawanan” di dunia maya. Bedanya satu aksi dilakukan di dunia nyata, dan aksi yang lain dilakuan dengan media dunia maya.

Aku tidak akan mengurai tentang Haktivism dan Idealisme terlalu panjang, karena ada banyak bertebaran tulisan-tulisan ku tentang Hacktivism yang mudah-mudahan menambah wacana.


Untuk menjadi catatatan

Catatannya, mungkin hari ini kita belum mau membedakan mana eksistensi dan mana AKSI. Hacktivists (tanpa bargaining politik yang kuat) tidak menggunakan akun-akun non-anonim di jejaring sosial. Bahkan kita tidak pernah mengenal siapa dibalik topeng Vendetta yg memobilisasi massa di dunia maya untuk melakukan serangan. Tapi yang terjadi sepertinya banyak dari kawan-kawan di dunia maya yang tidak menyadari itu atau ‘lupa’.... hide yourself, cover your tracks!!!

Satu dunia tahu, menggunakan jejaring sosial untuk memobilisasi serangan, juga dilakukan hacker-hacker berkelas dengan idealisme di luar negeri sana. Mereka yg siangnya berdasi rapih dan dikenal sebagai “Security Profesional” malamnya, melakukan aksi-aksi diluar koridor ethic. Tapi, lihat contoh Anonops di kasus Wikileaks, tidak satu pun tahu bahwa si A adalah dia di komunitas B, atau sebaliknya dll... yang disebut sebagai anonim, tidak beridentitas.

Dan dalam memobilisasi aksi maya khususnya, karena apa yang kita himbaukan bisa saja menjerumuskan, sepertinya kurang mengingatkan bahwa aksi yang dilakukan adalah "cybercrime" sehingga semua bisa lebih aware dengan konsekuensi.



Tentang Hacktivist Indonesia?

Ada pertanyaan “Hacktivism di negeri ini tidak ada yg mewadahi, benarkah?” beda dengan di luar negeri sana, mereka punya komunitas untuk menyamakan persepsi dan idelisme tentang "apa itu politik" dan "kenapa dengan hacking mereka bisa memperbaiki tatanan dunia." Mereka diajari tentang bagaimana cyberlaw, di beri pemahaman tentang aksi-aksi apa saja yangg menuntut pertanggungjawaban individu secara hukum, dan bagaimana kepentingan-kepentingan politis itu sarat di dunia maya.

Hacktivism di Indonesia seperti yang baru-baru terjadi, terperangkap dalam konotasi buruk "aksi-aksi lamer" yang hanya sekedar menggunakan tools tersebar dalam persepsi beberapa orang. Padahal ini sesungguhnya adalah proses pendewasaan aksi, karena tidak ada sesuatu hal yang muncul sebagai “sempurna”. Setelah kita memahami “kenapa harus melakukan sesuatu” kita akan beranjak kepada tahapan “bagaimana melakukan sesuatu.” Dan semua diawali dengan menggunakan tools di google, lalu berakhir dengan menyebar tools sendiri di google.

Memang di luar negeri sana, hacktivist membuat tools mereka sendiri seperti goolag milik the cult of the dead cow di Amerika misalnya, gerakan hacktivism ini juga yang mendorong pemberontakan hacker Cina melawan sensorship pemerintah, dan pemotongan akan akses internet disana. Suatu hari ini pun bukan tidak mungkin dapat di wujudkan di negeri ini.

Harapan dari tulisan ini, bisa sedikit memberi referensi sebuah “argumentasi ilmiah” tentang sebuah “aksi” karena kita tidak dapat membenarkan sesuatu yang “ilegal” hanya dengan ungkapan-ungkapan yang keluar dari “hati nurani” tanpa dibuktikan oleh fenomena (bahkan “teori”) yang sudah terjadi.



Suatu Yang Esensi

Bagaimanapun juga aku selalu apresiasi terhadap kawan-kawan muda, dan para senior yang memberi seruan aksi DDoS. Esensinya adalah baik, dan ingat sesuatu bisa menjadi halal, jika untuk kebaikan. Mungkin cara kedepannya harus lebih bermain elegan disertai dengan memberikan pengertian-pengertian kepada kawan-kawan tentang aksi yang mereka lakukan. Bahwa ada sebuah konsekuensi moral dan hukum yang mengikuti disetiap perbuatan manusia.

Selama aksi itu adalah aksi tentang solidaritas untuk ketertindasan, dan digerakkan oleh kesadaran tentang kemanusiaan, Tuhan Sesungguhnya Adalah Maha Pemberi Jalan Kemudahan..

Terakhir, kawan-kawan fans beratnya kang Onno? Aku pun sama.. Aku pernah bertanya kepada beliau, kenapa tidak menjadi Menteri saja pak? beliau menjawab "selama saya bisa memberikan sesuatu untuk orang banyak dan bermanfaat, saya sudah cukup senang menjadi ordinary people".. Well, intinya apapun yang kita lakukan, haruskah menjadi Anonim atau tidak, haruskah dengan DDoS atau tidak, semua harus untuk kebaikan bagi orang-orang di sekitar kita. 
Salam Penuh Cinta dari Bunga_Mataharry..:*


Note: 

Tulisan ini sebetulnya sudah kusiapkan sejak semalam, sambil mengamati aksi kawan-kawan, terus terang aku kagum, karena kawan-kawan memiliki keberanian tingkat “Dewa”, menggunakan akun-akun jejaring sosial untuk memobilisasi kekuatan maya. Bagiku, setiap yang kita lakukan di dunia maya itu terrecord dan ada yang mendokumentasikan, sebagai mahasiswa Politik, aku percaya Inteligen itu ada dimana-mana, termasuk mungkin membaca tulisan ini :D. Tulisan ini coba dirampungkan setelah meluncurnya beberapa pertanyaan dari kawan2 di dunia maya, tentang aksi DDoS semalam, ditambah lagi rasa bersalah salah satu senior kita yang seharusnya tidak perlu, selama beliau yakin dengan yang dilakukan nya :-)

1 comment:

Lutfie Ferdiansyah said...

uni nofia emang keren ! :wawa