Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Nov 22, 2012

“Spirit of Hacktivism” adalah Kemanusiaan: Tentang DDoS Indonesia?



Seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya, mencoba memberi pemahaman, bahwa kawan-kawan perlu melihat “Tulisan” ini. Tulisan yang menjadi “Akar” dari status-status facebook ku yang ternyata diterima kawan-kawan tidak sesuai dengan ekspektasiku. Padahal ‘status’ --- > (DDoS adalah kerjaan lamer, dan truly "Unethic" ??? Hmmm wait... I am doing my analysis... :D) ini bertujuan untuk mendengar isi-isi kepala kalian (lihat 3 buah tanda tanya disana dan ungkapan “aku sedang menganalisa” dalam bahasa inggris), tapi karena kawan-kawan sudah terlalu emosi, jadilah dianggap “sensasi lagi sensasi lagi.” :D..

ini tulisannya...


Nov 10, 2012

HACKING COMPUTER DAN PERANG GLOBAL


Oleh: Nofia Fitri


Setelah aksi spionase ‘spy’ dunia maya yang dilakukan militer Cina dalam rangkaian serangan Byzantine Candor, serangan Stuxnet di Iran, Ghosnet di India, Aurora di Cina dan berbagai macam malwares, botnet, trojan atau jenis virus lainnya yang dapat mengancam sistem keamanan komputer manapun di seluruh jagad cyber, maka tidak ada kata ‘aman’ lagi di dunia maya. 

Ketika komputer terhubung dengan internet, itulah saat dimana setiap sistem dapat sewaktu-waktu menjadi target dari tangan-tangan berkepentingan, salahsatunya untuk tujuan politik. 


Teknologi Komputer dan Perang Modern

Organisasi whistleblower Wikileaks dan kegiatan leaking politiknya yang cukup menjadi fenomena mengguncang diakhir tahun 2010 menjadi babak baru dalam konstalasi global, menjadikan teknologi komputer sebagai satu bentuk investasi mahal dalam menciptakan kekuatan-kekuatan baru di dunia modern.


Nov 7, 2012

POLITIK ITU HIDUP SAYA (BIOGRAFI)

Biografi Singkat Nofia Fitri (versi Koran JAKARTA)




Lantaran aktivitasnya menggeluti ilmu politik, perempuan ini akhirnya terpilih menjadi satu dari sembilan perempuan inspiratif versi Young Caring Professional Award 2012. Lantas, apa pula hubungannya dengan dunia hacker?

"Politik is my life." Begitu ucap perempuan ini ketika ditanya makna politik buatnya. Saat berbincang-bincang di kantornya di daerah Pancoran, Jakarta Selatan, perempuan berusia 28 tahun ini kadang menganalogikan politik itu dengan seni. Pokoknya, perempuan yang tengah merampungkan program master di Eastern Mediterranean University, Turki, ini begitu antusias menceritakan aktivitasnya sehari-hari bergulat dengan ilmu politik.

Dialah Nofia Fitri. Sebagai peneliti muda di bidang politik, Nofia-demikian dia kerap disapa, banyak menelaah berbagai hal tentang politik, mulai dari ekonomi politik, cyberpolitics, hingga terkait dengan partisipasi politik di Indonesia.

Saat ini, Nofia tercatat sebagai salah satu peneliti muda di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK). Dia juga bekerja sebagai asisten riset di Eastern Mediterranean University dan asisten dosen di universitas yang sama. Semuanya terkait dengan bidang politik. Selain itu, dia aktif menulis tentang berbagai isu politik, binushacker, dan menjadi pengajar online untuk mengampanyekan security hacking.

Putri ketiga dari enam bersaudara ini mengaku memang sudah menggemari ilmu politik sejak kecil. Terbukti, dia lebih senang menenggelamkan diri dengan membaca berbagai macam buku yang mengulas ideologi, mulai dari liberalisme, sosialisme, komunisme, hingga berbagai buku tentang tokoh-tokoh politik dunia dibandingkan membaca majalah remaja atau jalan-jalan ke mal sebagaimana yang lazim dilakukan remaja seusianya. "Dari kecil saya sudah kagum dengan Bung Karno dan Imam Khomeini (tokoh gerakan revolusi Iran)," ujar Nofia.

Selain terbiasa membaca buku-buku politik, dia gemar berorganisasi sedari masih duduk di bangku sekolah lanjutan. Dia aktif dalam sejumlah organisasi kesiswaan dan organisasi-organisasi di luar sekolah. Termasuk saat masih menjadi mahasiswa, Nofia aktif terlibat di organisasi pergerakan mahasiswa. Dia ikut turun ke jalan dalam aksi-aksi demonstrasi atau aktivitas-aktivitas lainnya. "Kalau otak saya dibedah, mungkin isinya bukan saraf, tapi struktur organisasi," ujar Nofia tentang kesukaannya berorganisasi.

Demi organisasi, perempuan kelahiran 16 November 1984 ini tidak hanya menghabiskan bayak waktunya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi. Dia bahkan rela memberikan uang kuliahnya untuk membantu kegiatan-kegiatan organisasi yang dia ikuti. "Saya dapat beasiswa, jadi uang kuliah dari orang tua saya pakai untuk membantu kegiatan organisasi," tambah dia.

Lantas, apa alasannya hingga Nofia begitu menggemari politik? Di mata Nofia, politik merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari setiap manusia. Dalam praktik-sehari-hari, pada dasarnya setiap manusia sudah berpolitik. "Saat berbohong saja, itu sebenarnya sudah politik. Hanya saja lihatnya dari kacamata mana, agama atau kacamata politik. Atau saat seseorang terlibat dalam kompetisi dan menggunakan strategi untuk memenangkan kompetisi, itu bagian dari berpolitik juga," kata dia.

Sebagai orang yang menggeluti ilmu politik, Nofia tidak sepakat jika politik dianggap sesuatu yang kotor sehingga dunia politik dianggap tidak cocok untuk kaum perempuan. Menurut dia, anggapan tersebut hanya bagian dari cara pandang seseorang. "Kita hanya melihat yang buruknya dari politik saja. Tapi kita tidak melihat bahwa aturan sejatinya dibuat dalam kerja politik itu bertujuan memberikan kesejahteraan pada rakyat banyak," terang dia.

Sebaliknya, Nofia justru melihat politik sebagai sebuah seni, seni memahami cara pandang orang lain, melihat sesuatu yang terlihat atau dianggap kotor oleh banyak pihak namun telihat lebih baik. Politik juga merupakan seni untuk menyatukan berbagai ideolofi yang berbeda. "Seni bagaimana meyakinkan orang lain. Memahami idealisme-idealisme yang berbeda menjadi satu tujuan, yakni membawa kesejahteraan bagi masyarakat," tambah Nofia.


Sesuai Konteks

Mengikuti sebuah kontes yang diselenggarakan perusahaan kosmetik ternyata membawa pengaruh dan perubahan besar dalam kehidupan Nofia, terlebih dalam hal penampilan. Sebagai seorang aktivis yang dikenal cuek dengan penampilan, sejatinya dia juga termasuk tipe perempuan yang tidak gemar berdandan. "Saya pertama kali pakai lipstik ya pas ikut pemilihan di YCPA," kata Nofia yang awalnya hanya iseng mengikuti kontes yang memilih sembilan perempuan inspiratif dalam berbagai bidang tersebut.

Sebagai seorang aktivis, penampilan Nofia saat ditemui memang terlihat lebih girly. Tidak seperti aktivis umumnya yang menggunakan jins belel dan kaus oblong dengan sneakers, Nofia tampak lebih anggun dengan sepatu berhak, blus warna pink dengan aksesori bunga serta kalung mutiara sebagai penyempurna penampilannya sore itu.

"Ternyata yang ditentang bukan perubahan penampilan yang ada pada saya sekarang, tapi saya malah diminta mengajari teman-teman sesama aktivis bagaimana berpenampilan dalam artian lebih peduli dengan penampilan," kata Nofia yang mengaku lebih suka berpenampilan sesuai konteks. "Kalau saya sedang ikut orasi di jalan, ya saya tidak mungkin pakai sepatu hak," kata dia tertawa.

Menurut penuturannya, beberapa juri dalam pemilihan tersebut malah secara terang-terangan sempat menyampaikan pujian kepada dirinya. Para juri juga lebih mudah mengenali dirinya yang dinilai memiliki penampilan yang lain dari yang lain. Tidak hanya itu, teman-temannya sesama kontestan juga dengan mudah mengenali keberadaannya sebagai seorang aktivis.

"Mba Era Soekamto (juri) saat itu bilang saya perempuan muda yang mampu berbicara politik dengan idealisme yang terpancar dari mata, dan beliau bangga dengan saya. Nah kalau teman-teman lain pasti selalu bilang, oh ini yang aktivis itu ya," ujar Nofia menirukan kata-kata salah satu desainer terkemuka tersebut serta ucapan teman-teman sesama kontestan.

Lantas, sampai kapan dia akan menjadi seorang aktivis? "Selamanya," ujarnya lugas. Bagi Nofia, hidup adalah soal bagaimana memberikan kontribusi dalam kehidupan. Menjadi aktivis merupakan salah bagian dari upaya kontribusi itu, yakni dengan menyerukan perubahan-perubahan. "Bermanfaat atau tidak, itu bergantung dari masing-masing individu yang menerima. Bagi saya, hidup bukan bagaimana memberikan manfaat, tetapi bagimana kita bisa memberikan kontribusi bagi kehidupan itu," ujar dia. *nanik ismawati.


Antara Buku, Komputer, dan Gitar
 
           "Begitu merasa galau, langsung lari ke gitar."

Ada tiga hal yang melekat dalam diri Nofia, yakni buku, komputer, dan gitar. Bahkan, boleh dibilang, sosok pengagum Bung Karno ini tak bisa lepas dari ketiga benda tersebut.

"Kalau menggambarkan saya ya itu, buku, komputer, dan gitar," kata dia terkekeh. Hampir 24 jam waktunya dihabiskan berkutat dengan ketiga hal tersebut. "Adik saya selalu bilang, waktu saya itu 20 jam di depan komputer dan buku. Sisanya tidur," ujar Nofia kembali terkekeh.

Nofia mengaku gandrung dengan dunia komputer sejak masih remaja. Aktivitasnya di dunia maya dalam dua tahun terakhir ini malah bertambah padat. Dia menjadi salah satu pengajar online untuk sebuah komunitas penggerak hacking di Indonesia. "Awalnya, saat masih di Turki, saya ikut bergabung. Kemudian setelah balik ke Indonesia malah jadi serius," kata Nofia.

Bersama timnya, Nofia tengah mengampanyekan gerakan haktivism dan security hacking. Tujuannya agar kaum muda dapat melalukan aktivitas hacking komputer untuk membuat internet berguna bagi perubahan bangsa, bukan malah sebaliknya. "Kami tidak mengajarkan bagaimana defacement atau DDoS, tetapi mengenalkan etika kepada hacker muda," kata Nofia.

Nofia melihat sinergi antara komputer dan dunia politik merupakan simbiosis yang paling menguntungkan di masa mendatang. Komputer melalui teknologi internet menjadi sarana tidak hanya membentuk opini publik, melainkan juga penggalangan massa, dua kekuatan utama dalam politik. "Tapi sayangnya, politisi kita tidak melihat ini. Bayak yang masih gagap dengan teknologi dan enggan mempelajarinya. Di sisi lain, para ahli IT kita juga seolah-olah memisahkan diri dari dunia politik dan tidak mau terjun ke dunia politik," ujar Nofia.

Selain komputer, buku menjadi keseharian Nofia. Di meja kerjanya, setumpuk buku masih menjadi PR bacaan bagi Nofia. Sebagian besar merupakan buku-buku politik yang dia bawa dari Turki. Selain hobi membaca, buku-buku tersebut menjadi bahan referensinya untuk menulis tesis dan tulisan-tulisan lain untuk jurnal-jurnal ilmu politik. "Saya itu paling suka buku-buku yang mengulas soal ideologi," ujar Nofia yang lebih memilih menghabiskan waktu luang dengan duduk di depan komputer daripada jalan-jalan ke mal.

Lantas, kapan Nofia memegang gitar jika waktunya habis untuk komputer dan buku? Bagi Nofia, selalu ada waktu untuk gitar. Alat musik yang satu itu telah menjadi teman setianya membunuh waktu sejak masih duduk di bangku SMU. "Begitu merasa galau, langsung lari ke gitar," ujar Nofia tersenyum.

Soal galau, Nofia mengaku memiliki masalah besar hingga saat ini, yakni ketidakmampuannya bergelut dengan diri sendiri. Kemauan atau minat yang banyak dalam berbagai bidang membuat Nofia menjadi orang yang tidak dapat fokus pada salah satu bidang. "Dan ini yang paling saya benci, tidak bisa fokus pada satu bidang. Banyak yang bilang saya maruk," kata Nofia.

Meski demikian, dengan menggeluti banyak bidang, justru dia berharap dirinya mampu memberikan bayak kontribusi ke depan. Tidak hanya itu, menggeluti bayak bidang juga membuat Nofia menjadi sosok pekerja keras untuk menguasai bidang-bidang tersebut sehingga kontribusinya bisa dirasakan tidak hanya pada bidang tertentu, tetapi dalam berbagai aspek. "Sekali lagi, hidup itu soal kontribusi," kata dia. *nanik ismawati

 
Tulisan ini diambil dari wawancara koran Jakarta, sumber asli Koran Jakarta 28 Oktober 2012, hal 12, versi online http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/104140.