Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Feb 25, 2012

Hackito Ergo Sum - Aku Meretas Karenanya Aku Ada


Author : Cakill Schumbag


Cyberground, pemaparan dari sebuah ekosistem terselubung yang merapalkan paradigma dualisme dari masing-masing personal agar tetap pada eksistensinya. Setiap pelaku hacking komputer yang menjunjung tinggi semangat open source akan mengalami seleksi alam untuk suatu pencapaian apakah menjadi seorang elite hacker, aktivis dengan misi pembelaan ideloginya agar di dengar ke segala lapisan masyarakat, dengan upaya pengamanan sistem komputer lebih baik, walau sejatinya hacker bersifat anonym, dan pergerakan yang pesat secara independen, terdapat pesan moral di dalamnya yang menyampaikan alasan apa dan bagaimana mereka bisa berdiri sampai detik ini hingga ke depannya, menginterpretasikan perannya melalui karya-karya impresif, dengan mengkristalnya insting pemberontakan menjadi semacam konsumsi sehari-hari untuk produktivitas dalam pencarian jati diri mereka. Di dalam prosesnya terdapat fase yang tak di sadari namun cukup penting untuk menjadi tiket menyempurnakan idealismenya.


Fase Hacker dan Analogi Kepompong

Suatu ketika seekor kepompong yang akan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu bergantung di bangku taman, berjuang memaksakan dirinya melewati lubang kecil itu, kemudian kupu-kupu tersebut  berhenti membuat perubahan untuk dirinya, tanpa di sadari seseorang sedang mengamati steps (langkah-langkah) perubahan itu lalu mencoba membantu dengan cara memotong sisa dari kekangan kepompongnya, hingga kupu-kupu itu berhasil keluar dengan mudahnya, namun dia mempunyai tubuh gembung, kecil dan sayap-sayap yang menciut, seseorang tadi berharap nantinya akan tumbuh sayap yang merekah indah menghias cakrawala, seiring berjalannya waktu, namun semua itu takkan pernah terjadi, kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut, dia tidak pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya  sedemikian, sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita, jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita, ketika kita menginginkan kemudahan Tuhan berkehendak lain supaya kita belajar untuk menjadi lebih baik nantinya.

Jika kupu-kupu tadi melewati tahapnya melalui jalan yang sebagaimana mestinya,tentu dia takkan terlunta dalam perjalanan hidupnya, sama halnya seorang hacker pemula yang memaksa untuk menjadi seorang elite tanpa mencari kekurangan dalam dirinya, melegalkan copycat dari sebuah code yang telah termanifestasi, Show me the Code” hingga pemakaian alat bantu yang membuatnya miss-understanding, hanya memanfaatkan tanpa harus tahu bagaimana alat tersebut bekerja, bila kupu-kupu yang bermetamorfosa secara alamiah, dengan kepakan yang indah kelak siap mengkombinasikan sayapnya di antara bunga-bunga yang bersemi, mampu menggaungkan teriakannya dari sebuah code hingga ke penjuru dunia, untuk sebuah perubahan.


Black or White on Hacking Passion

Hasrat seseorang berada di suatu jalur untuk mencapai cita-cita hanyalah sebuah kebijakan yang di pilihnya, dimana terdapat tidak atau iya, 0 atau 1, salah atau benar, hitam atau putih, karena hidup adalah pilihan, dan pilihanpun bukanlah sesuatu yang jahat, karena kejahatan sesungguhnya tidak pernah ada di dunia ini, kejahatan adalah ketiadaan kasih Tuhan di hati manusia, dan kebaikan akan selalu kita temui di setiap episode kehidupan, jika seseorang memilih untuk jahat, sejatinya adalah sebuah siklus pencarian jalan untuk menuju kebaikan yang hakiki, tanpa di sadarinya. Karena Tuhan memberi opsi untuk dipilih, maka manusia yang sudah diberi kemampuan membuat suatu keputusan, idealnya tahu jalan apa yang harus dipilih.

Dalam kejahatan terdapat pembelajaran untuk kebaikan, setidaknya seorang peretas akan tahu bagaimana cara melakukan agresi system terhadap target, probabilitasnya mereka akan terus mencari melakukan aksi hacking karena mereka menyadari akan keberadaannya di jalur yang semestinya, hacker meretas karenanya hacker ada, berbagai motif di jalaninya dengan beragam ekspektasi, yang memaksanya belajar untuk tetap aman tidak meninggalkan jejak, naluri berburu yang tajam, mendenguskan persepsi rasional demi mengintegrasikan dan memperkecil kemungkinan di susupi oleh hacker lain, entah sistem yang telah dikuasainya atau sistem pribadinya. Jika tidak meretas, maka eksistensi seseorang tidak wujud sebagai sosok ‘Hacker.’


Hack Yourself Before Gain the Access

Seorang peretas sejati, tidak hanya mencari sebuah kelemahan pada sistem, tapi juga menganalisa kekurangan dalam dirinya. Sebuah mindset yang harus diubah, karena reaksi spiritual mampu mengendalikan emosional seseorang, dan emosional-lah yang bertanggung jawab atas intelligent seseorang, bahwasanya hacking yang berdasarkan inteligence akan mencurahkan sebuah filosofis mengapa-bagaimana dunia ini terbentuk dengan wawasan secara global.

Hacker adalah manusia biasa yang ingin di dengar, di terima, bahkan di pandang oleh manusia lainnya, di belantara maya tak menutup kemungkinan mereka berbeda pendapat satu sama lain tentang filosofi hacking yang dipilihnya, menimbulkan pula pro-kontra pada sesama diantaranya, mereka berargumen, berpolitik untuk mencari sebuah kebenaran, bukan untuk pembenaran, aksi yang di dasari pola pikir terstruktur secara dinamis tentunya menjelmakan sebuah maksud dan tujuan, dalam hal ini mengapa mereka masih tegak dengan bendera perangnya.

Merekalah yang memerangi kebodohan dengan membagi pengetahuannya secara bebas, dengan mudahnya hacker menunjukkan kemampuannya, menggerakkan perkembangan dunia berkomputasi secara luas dan berdedikasi, namun hacker sesungguhnya adalah seseorang yang mampu mengenali karakteristik pribadi mereka, sesuai hukum alam, orang pandai kalah dengan orang cerdas, dan orang cerdas kalah dengan orang licik, apabila sang hacker tadi masih rentan untuk di perdayai, mereka akan dengan mudah di jerumuskan.


Dedicated to : Bunga_Mataharry and Mala Schumbag (never want to leave you)

Special thank's : Nofia ‘Rapiah’ Fitri, KeTEk, Wenkhairu, Syn_attack, Mywisdom, Adoet, X_intrudo, and you and Greetz : for all devilzc0de team (DC gay club – pinky the cheerleaders diare club) and many Indonesian hacktivist, Jayalah Indonesiaku.

Feb 17, 2012

“Freedom on Internet” Pasca SOPA/PIPA: Antara Kebebasan Informasi, Hacktivism & ”Market Interests”



Oleh: Nofia Fitri AZRIEL

“....this bill would establish a system for taking down websites that the Justice Department determines to be dedicated to copyright infringement. The copyright owner would be able to commence a legal action against any site they deem to have "only limited purpose or use other than infringement," and the copyright owner would be allowed to demand that search engines, social networking sites and domain name services block access to the targeted site. It would also make unauthorized web streaming of copyrighted content a felony with a possible penalty up to five years in prison.”


Kutipan diatas adalah point penting Rancangan Undang undang (RUU) SOPA/PIPA yang diajukan anggota parlemen US. Apa sebetulnya yang membuat isu ini menjadi kontroversi dan bagaimana dunia menyikapi fenomena yang kini mulai meredam tersebut, namun telah memunculkan satu tawaran baru ‘OPEN’ karena ketakutan akan ACTA dan pertanyaan tentang ‘freedom on internet.’ 


SOPA & PIPA: Sebuah Deregulasi 

Dunia Maya (bahkan dunia nyata) kembali diguncang isu yang menarik perhatian banyak kalangan dari Akademisi, Policy Makers (pembuat kebijakan) dan Stake Holders, Researcher, Big Companies sampai Internet User/Netter. Stop Online Piracy Act (SOPA) dan Protect Intellectual Property Act (PIPA) menjadi buah bibir Januari, menuai protes di dunia maya hingga demonstrasi konvensional di wilayah real. SOPA & PIPA adalah RUU yang membatasi para pengguna internet terkait hak cipta. Sederhananya RUU tersebut adalah bentuk meregulasi kembali ‘deregulasi’ hal-hal yang terkait dengan aktivitas di Internet yang melibatkan masyarakat dunia karena minimnya ‘rules’ yang dapat menertibkan internet users. Perlu ditekankan bahwa membuat aturan, tidak melulu membatasi, melainkan juga menegakan keadilan. 


Feb 7, 2012

Hack the Political-Economy Interests on the Internet War


(Kepentingan Ekonomi-Politik dalam Perang Internet)

Oleh: Nofia Fitri


‘Jagad Maya ini diciptakan siapa? Jagad maya ini milik siapa? Jagad maya ini dikuasai siapa? Jagad Maya ini disisipi kepentingan siapa? dan JAGAD MAYA ini untuk siapa?’



INTERNET dan ‘User’ 

Kemajuan teknologi Internet sesungguhnya dapat mendidik penggunanya ‘user’ menjadi lebih kritis. Namun sayangnya sistem pendidikan dinegeri ini tidak sepenuhnya mendukung individu untuk melakukan analisis ‘issue’ dalam sudut pandang yang variant. Tulisan ini dibuat untuk berbagi wawasan politik dasar bagi para pengguna internet pemula dalam memahami setiap persoalan yang berkaitan dengan diri kita sebagai si ‘user’ di dunia maya.

Ketika kita menjadi ‘user’ internet ada beberapa hal yang melekat dalam diri kita namun kadang tidak disadari: pertama, seorang internet user sama dengan seseorang yang tidak pernah ‘aman’ dalam sistem yang terkoneksi oleh kabel dan terfasilitasi oleh rangkaian-rangakaian kode yang terprogram sebagai menjadi ‘nyawa’ dari dunia cyber. Sewaktu-waktu kita dapat menjadi korban dari keawaman akan teknologi. 

Lalu kedua, seorang internet user sama dengan seseorang yang telah rela untuk menjadi bagian tidak hanya dari kemudahan tapi juga kerumitan yang tercipta di ruang-ruang maya.

Dan ketiga, yang kadang tidak terlalu menjadi ‘concern’ bahkan sering terabaikan oleh kita adalah seorang internet user sama dengan seseorang yang dituntut untuk membuka luas wawasannya tentang konstalasi global (ekonomi, politik, sosial, budaya, dll) karena ruang maya dimana ia melakukan interaksi dengan berbagai macam orang adalah tempat dimana masyarakat se-dunia berkumpul dengan segala macam kepentingan yang berbeda dan sewaktu-waktu dapat dintervensi oleh pemilik kekuasaan ataupun pemilik modal.