Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Nov 22, 2012

“Spirit of Hacktivism” adalah Kemanusiaan: Tentang DDoS Indonesia?



Seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya, mencoba memberi pemahaman, bahwa kawan-kawan perlu melihat “Tulisan” ini. Tulisan yang menjadi “Akar” dari status-status facebook ku yang ternyata diterima kawan-kawan tidak sesuai dengan ekspektasiku. Padahal ‘status’ --- > (DDoS adalah kerjaan lamer, dan truly "Unethic" ??? Hmmm wait... I am doing my analysis... :D) ini bertujuan untuk mendengar isi-isi kepala kalian (lihat 3 buah tanda tanya disana dan ungkapan “aku sedang menganalisa” dalam bahasa inggris), tapi karena kawan-kawan sudah terlalu emosi, jadilah dianggap “sensasi lagi sensasi lagi.” :D..

ini tulisannya...


Nov 10, 2012

HACKING COMPUTER DAN PERANG GLOBAL


Oleh: Nofia Fitri


Setelah aksi spionase ‘spy’ dunia maya yang dilakukan militer Cina dalam rangkaian serangan Byzantine Candor, serangan Stuxnet di Iran, Ghosnet di India, Aurora di Cina dan berbagai macam malwares, botnet, trojan atau jenis virus lainnya yang dapat mengancam sistem keamanan komputer manapun di seluruh jagad cyber, maka tidak ada kata ‘aman’ lagi di dunia maya. 

Ketika komputer terhubung dengan internet, itulah saat dimana setiap sistem dapat sewaktu-waktu menjadi target dari tangan-tangan berkepentingan, salahsatunya untuk tujuan politik. 


Teknologi Komputer dan Perang Modern

Organisasi whistleblower Wikileaks dan kegiatan leaking politiknya yang cukup menjadi fenomena mengguncang diakhir tahun 2010 menjadi babak baru dalam konstalasi global, menjadikan teknologi komputer sebagai satu bentuk investasi mahal dalam menciptakan kekuatan-kekuatan baru di dunia modern.


Nov 7, 2012

POLITIK ITU HIDUP SAYA (BIOGRAFI)

Biografi Singkat Nofia Fitri (versi Koran JAKARTA)




Lantaran aktivitasnya menggeluti ilmu politik, perempuan ini akhirnya terpilih menjadi satu dari sembilan perempuan inspiratif versi Young Caring Professional Award 2012. Lantas, apa pula hubungannya dengan dunia hacker?

"Politik is my life." Begitu ucap perempuan ini ketika ditanya makna politik buatnya. Saat berbincang-bincang di kantornya di daerah Pancoran, Jakarta Selatan, perempuan berusia 28 tahun ini kadang menganalogikan politik itu dengan seni. Pokoknya, perempuan yang tengah merampungkan program master di Eastern Mediterranean University, Turki, ini begitu antusias menceritakan aktivitasnya sehari-hari bergulat dengan ilmu politik.

Dialah Nofia Fitri. Sebagai peneliti muda di bidang politik, Nofia-demikian dia kerap disapa, banyak menelaah berbagai hal tentang politik, mulai dari ekonomi politik, cyberpolitics, hingga terkait dengan partisipasi politik di Indonesia.

Saat ini, Nofia tercatat sebagai salah satu peneliti muda di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK). Dia juga bekerja sebagai asisten riset di Eastern Mediterranean University dan asisten dosen di universitas yang sama. Semuanya terkait dengan bidang politik. Selain itu, dia aktif menulis tentang berbagai isu politik, binushacker, dan menjadi pengajar online untuk mengampanyekan security hacking.

Putri ketiga dari enam bersaudara ini mengaku memang sudah menggemari ilmu politik sejak kecil. Terbukti, dia lebih senang menenggelamkan diri dengan membaca berbagai macam buku yang mengulas ideologi, mulai dari liberalisme, sosialisme, komunisme, hingga berbagai buku tentang tokoh-tokoh politik dunia dibandingkan membaca majalah remaja atau jalan-jalan ke mal sebagaimana yang lazim dilakukan remaja seusianya. "Dari kecil saya sudah kagum dengan Bung Karno dan Imam Khomeini (tokoh gerakan revolusi Iran)," ujar Nofia.

Selain terbiasa membaca buku-buku politik, dia gemar berorganisasi sedari masih duduk di bangku sekolah lanjutan. Dia aktif dalam sejumlah organisasi kesiswaan dan organisasi-organisasi di luar sekolah. Termasuk saat masih menjadi mahasiswa, Nofia aktif terlibat di organisasi pergerakan mahasiswa. Dia ikut turun ke jalan dalam aksi-aksi demonstrasi atau aktivitas-aktivitas lainnya. "Kalau otak saya dibedah, mungkin isinya bukan saraf, tapi struktur organisasi," ujar Nofia tentang kesukaannya berorganisasi.

Demi organisasi, perempuan kelahiran 16 November 1984 ini tidak hanya menghabiskan bayak waktunya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi. Dia bahkan rela memberikan uang kuliahnya untuk membantu kegiatan-kegiatan organisasi yang dia ikuti. "Saya dapat beasiswa, jadi uang kuliah dari orang tua saya pakai untuk membantu kegiatan organisasi," tambah dia.

Lantas, apa alasannya hingga Nofia begitu menggemari politik? Di mata Nofia, politik merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari setiap manusia. Dalam praktik-sehari-hari, pada dasarnya setiap manusia sudah berpolitik. "Saat berbohong saja, itu sebenarnya sudah politik. Hanya saja lihatnya dari kacamata mana, agama atau kacamata politik. Atau saat seseorang terlibat dalam kompetisi dan menggunakan strategi untuk memenangkan kompetisi, itu bagian dari berpolitik juga," kata dia.

Sebagai orang yang menggeluti ilmu politik, Nofia tidak sepakat jika politik dianggap sesuatu yang kotor sehingga dunia politik dianggap tidak cocok untuk kaum perempuan. Menurut dia, anggapan tersebut hanya bagian dari cara pandang seseorang. "Kita hanya melihat yang buruknya dari politik saja. Tapi kita tidak melihat bahwa aturan sejatinya dibuat dalam kerja politik itu bertujuan memberikan kesejahteraan pada rakyat banyak," terang dia.

Sebaliknya, Nofia justru melihat politik sebagai sebuah seni, seni memahami cara pandang orang lain, melihat sesuatu yang terlihat atau dianggap kotor oleh banyak pihak namun telihat lebih baik. Politik juga merupakan seni untuk menyatukan berbagai ideolofi yang berbeda. "Seni bagaimana meyakinkan orang lain. Memahami idealisme-idealisme yang berbeda menjadi satu tujuan, yakni membawa kesejahteraan bagi masyarakat," tambah Nofia.


Sesuai Konteks

Mengikuti sebuah kontes yang diselenggarakan perusahaan kosmetik ternyata membawa pengaruh dan perubahan besar dalam kehidupan Nofia, terlebih dalam hal penampilan. Sebagai seorang aktivis yang dikenal cuek dengan penampilan, sejatinya dia juga termasuk tipe perempuan yang tidak gemar berdandan. "Saya pertama kali pakai lipstik ya pas ikut pemilihan di YCPA," kata Nofia yang awalnya hanya iseng mengikuti kontes yang memilih sembilan perempuan inspiratif dalam berbagai bidang tersebut.

Sebagai seorang aktivis, penampilan Nofia saat ditemui memang terlihat lebih girly. Tidak seperti aktivis umumnya yang menggunakan jins belel dan kaus oblong dengan sneakers, Nofia tampak lebih anggun dengan sepatu berhak, blus warna pink dengan aksesori bunga serta kalung mutiara sebagai penyempurna penampilannya sore itu.

"Ternyata yang ditentang bukan perubahan penampilan yang ada pada saya sekarang, tapi saya malah diminta mengajari teman-teman sesama aktivis bagaimana berpenampilan dalam artian lebih peduli dengan penampilan," kata Nofia yang mengaku lebih suka berpenampilan sesuai konteks. "Kalau saya sedang ikut orasi di jalan, ya saya tidak mungkin pakai sepatu hak," kata dia tertawa.

Menurut penuturannya, beberapa juri dalam pemilihan tersebut malah secara terang-terangan sempat menyampaikan pujian kepada dirinya. Para juri juga lebih mudah mengenali dirinya yang dinilai memiliki penampilan yang lain dari yang lain. Tidak hanya itu, teman-temannya sesama kontestan juga dengan mudah mengenali keberadaannya sebagai seorang aktivis.

"Mba Era Soekamto (juri) saat itu bilang saya perempuan muda yang mampu berbicara politik dengan idealisme yang terpancar dari mata, dan beliau bangga dengan saya. Nah kalau teman-teman lain pasti selalu bilang, oh ini yang aktivis itu ya," ujar Nofia menirukan kata-kata salah satu desainer terkemuka tersebut serta ucapan teman-teman sesama kontestan.

Lantas, sampai kapan dia akan menjadi seorang aktivis? "Selamanya," ujarnya lugas. Bagi Nofia, hidup adalah soal bagaimana memberikan kontribusi dalam kehidupan. Menjadi aktivis merupakan salah bagian dari upaya kontribusi itu, yakni dengan menyerukan perubahan-perubahan. "Bermanfaat atau tidak, itu bergantung dari masing-masing individu yang menerima. Bagi saya, hidup bukan bagaimana memberikan manfaat, tetapi bagimana kita bisa memberikan kontribusi bagi kehidupan itu," ujar dia. *nanik ismawati.


Antara Buku, Komputer, dan Gitar
 
           "Begitu merasa galau, langsung lari ke gitar."

Ada tiga hal yang melekat dalam diri Nofia, yakni buku, komputer, dan gitar. Bahkan, boleh dibilang, sosok pengagum Bung Karno ini tak bisa lepas dari ketiga benda tersebut.

"Kalau menggambarkan saya ya itu, buku, komputer, dan gitar," kata dia terkekeh. Hampir 24 jam waktunya dihabiskan berkutat dengan ketiga hal tersebut. "Adik saya selalu bilang, waktu saya itu 20 jam di depan komputer dan buku. Sisanya tidur," ujar Nofia kembali terkekeh.

Nofia mengaku gandrung dengan dunia komputer sejak masih remaja. Aktivitasnya di dunia maya dalam dua tahun terakhir ini malah bertambah padat. Dia menjadi salah satu pengajar online untuk sebuah komunitas penggerak hacking di Indonesia. "Awalnya, saat masih di Turki, saya ikut bergabung. Kemudian setelah balik ke Indonesia malah jadi serius," kata Nofia.

Bersama timnya, Nofia tengah mengampanyekan gerakan haktivism dan security hacking. Tujuannya agar kaum muda dapat melalukan aktivitas hacking komputer untuk membuat internet berguna bagi perubahan bangsa, bukan malah sebaliknya. "Kami tidak mengajarkan bagaimana defacement atau DDoS, tetapi mengenalkan etika kepada hacker muda," kata Nofia.

Nofia melihat sinergi antara komputer dan dunia politik merupakan simbiosis yang paling menguntungkan di masa mendatang. Komputer melalui teknologi internet menjadi sarana tidak hanya membentuk opini publik, melainkan juga penggalangan massa, dua kekuatan utama dalam politik. "Tapi sayangnya, politisi kita tidak melihat ini. Bayak yang masih gagap dengan teknologi dan enggan mempelajarinya. Di sisi lain, para ahli IT kita juga seolah-olah memisahkan diri dari dunia politik dan tidak mau terjun ke dunia politik," ujar Nofia.

Selain komputer, buku menjadi keseharian Nofia. Di meja kerjanya, setumpuk buku masih menjadi PR bacaan bagi Nofia. Sebagian besar merupakan buku-buku politik yang dia bawa dari Turki. Selain hobi membaca, buku-buku tersebut menjadi bahan referensinya untuk menulis tesis dan tulisan-tulisan lain untuk jurnal-jurnal ilmu politik. "Saya itu paling suka buku-buku yang mengulas soal ideologi," ujar Nofia yang lebih memilih menghabiskan waktu luang dengan duduk di depan komputer daripada jalan-jalan ke mal.

Lantas, kapan Nofia memegang gitar jika waktunya habis untuk komputer dan buku? Bagi Nofia, selalu ada waktu untuk gitar. Alat musik yang satu itu telah menjadi teman setianya membunuh waktu sejak masih duduk di bangku SMU. "Begitu merasa galau, langsung lari ke gitar," ujar Nofia tersenyum.

Soal galau, Nofia mengaku memiliki masalah besar hingga saat ini, yakni ketidakmampuannya bergelut dengan diri sendiri. Kemauan atau minat yang banyak dalam berbagai bidang membuat Nofia menjadi orang yang tidak dapat fokus pada salah satu bidang. "Dan ini yang paling saya benci, tidak bisa fokus pada satu bidang. Banyak yang bilang saya maruk," kata Nofia.

Meski demikian, dengan menggeluti banyak bidang, justru dia berharap dirinya mampu memberikan bayak kontribusi ke depan. Tidak hanya itu, menggeluti bayak bidang juga membuat Nofia menjadi sosok pekerja keras untuk menguasai bidang-bidang tersebut sehingga kontribusinya bisa dirasakan tidak hanya pada bidang tertentu, tetapi dalam berbagai aspek. "Sekali lagi, hidup itu soal kontribusi," kata dia. *nanik ismawati

 
Tulisan ini diambil dari wawancara koran Jakarta, sumber asli Koran Jakarta 28 Oktober 2012, hal 12, versi online http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/104140.

Oct 31, 2012

Internet INDONESIA dan Deliberative Democracy


Indonesia adalah bangsa besar dengan semangat paling menyala dalam menegakkan prinsip-prinsip berdemokrasi. Alat-alat demokrasi beragam dimulai dari pemilihan umum dengan sistem multipartai, pers bebas sampai menjamurnya organisasi-organisasi sosial-politik, kelompok-kelompok penekan dan kepentingan, tidak terlepas dari semakin meningkatnya peran ruang-ruang publik. Ruang publik hari ini sejatinya menjadi perdebatan dalam diskursus demokrasi ketika meniti hubungan antara rakyat dengan pemerintah. Diantara ruang-ruang publik yang efektif dalam penegakan demokrasi di kebanyakan negara adalah media internet.

Internet dan Partisipasi Politik Masyarakat

Jika perdebatan seputar fungsi internet dalam menstimulus partisipasi politik masyarakat luas sudah sampai pada titik dimana partisipasi politik tersebut terus meningkat secara statistik dan internet dianggap sebagai ‘a new media’ dalam kajian media dan teknologi komunikasi (Price, 2010) misalnya, hingga ‘a new tool of democracy’ dalam kajian politik (Danning, 2001) atau ‘a new public sphere’ dalam kajian filsafat dan sosiologi (Gimmler, 2001). 

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dengan kadar pencapaian dari demokrasi itu sendiri? Apakah partisipasi politik melalui media internet dimana rakyat menyalurkan aspirasi mereka bekerja efektif dalam membangun suatu peradaban masyarakat yang demokratis? 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut perkenankanlah saya mengurai argumentasi. 


Oct 23, 2012

Wawasan CYBER-POLITICS: Hacktivism-Cyberwarfare

Oleh: Nofia FITRI


Dunia global dan kemajuan teknologi modern, perkembangan internet beserta aktivitas di dunia maya/cyber tidak terlepas dari meningkatnya aksi-aksi kejahatan dan kriminalitas untuk tujuan profit, sosial-politik atau sebaliknya hanya sekedar penyebaran ideologi individu semata. Namun yang sangat disayangkan hari ini, masyarakat umum ternyata masih agak awam dalam memahami perbedaan diantara aksi-aksi di dunia maya yang kerap melibatkan teknik hacking komputer dengan beragam motif tersebut.

Sederhananya, seorang kriminalitas cyber di dunia maya (cracker=perusak) berbeda dengan hacker, berbeda dengan hacktivist, berbeda dengan cyberterrorist.


Hacktivism & Cybercrime

Sebut saja Political Acktivism atau yang dikenal dengan istilah ‘Hacktivism’ yang berbeda secara definisi dan implementasi dengan Cybercrime apalagi Cyberterrorism. Namun pembedaan ini menjadi kabur seiring dengan minimnya informasi dan sosialisasi kepada masyarakat, sehingga konotasi negatif kerap melekat dan sebaliknya mereka para pemula yang minim wawasan (baca: internet users/pecinta teknologi) justru semakin terbodohi oleh statement-statement antipolitik di dunia maya.

Hacktivism secara definisi dimaknai sebagai aksi yang tidak menggunakan kekerasan fisik juga tidak menimbulkan kekerasan fisik secara langsung dengan menggunakan teknik hacking komputer untuk tujuan-tujuan politis. Mengutip Samuel dalam pembatasan disertasi Harvard nya “hacktivism is the nonviolent use of illegal or legally ambigous digital tools in pursuit of political ends.” Bentuk aksi Hacktivism misalnya seperti yang dilakukan kelompok Hacktivism pertama the Cult of the Dead Cow di Amerika salahsatunya lewat aksi developing ‘Goolag Tool’ sebagai bentuk protes atas dominasi microsoft, atau kelompok The Electrohippies di Inggris dengan Gerakan propaganda Anti-Globalisasi nya di dunia maya.


Aug 9, 2012

Curicculum Vitae........ dalam Persepsi Ku.


Kawan-kawan pasti sudah tahu apa itu CV kan, nah ini adalah permintaan dari banyak kalian kepadaku untuk membuat tulisan seputar bagaimana membuat CV yang baik. 

Terus terang aku sebetulnya tidak banyak membuat CV untuk melamar pekerjaan, karena di kantorku aku tidak pernah mengirim CV.. :D Ceritanya aktivis itu tidak melamar pekerjaan, karena kita meneruskan idealisme kita dan jika segaris dengan senior-senior kebanyakan kita bisa berjuang bersama mereka dalam misi perubahan bersama, dan ini bukan soal melamar, melainkan “trust” atau kepercayaan dan ikatan organisasi yang kuat. 

Nah hanya saja sebagai Sekretaris Program di kantorku sekarang aku adalah orang yang bertanggungjawab dalam perekrutan karyawan di kantorku jadi aku berurusan dalam menseleksi CV pelamar yang masuk, baik untuk karyawan atau sebatas kolega untuk dilibatkan dengan projek-projek politik. Untuk ku pribadi menulis CV pernah kulakukan untuk mengajukan internship/program magang di Kementrian Luar Negeri RI selama spring kemarin, waktu mengajukan beasiswa ke kampus untuk studi master ku dan untuk mengikuti beberapa program seperti pertukaran pelajar atau kunjungan studi ke luar negeri. 

Belakangan aku juga diminta untuk ikut membaca CV kalian yang ingin mengajukan beasiswa S1 dan S2 di salah satu STMIK di Jakarta atas permintaan ketua jurusan disana. Sebagai masukan saja, berikut beberapa hal yang menurutku (dalam versiku ya) perlu diperhatikan ketika membuat CV baik untuk melamar program beasiswa ataupun melamar pekerjaan. Kalau ada yang tidak sesuai dengan opini kalian, silahkan, bebas-bebas saja :D


1. Pastikan kalian memahami betul perbedaan antara CV dengan Resume. CV memuat cukup banyak informasi pribadi dan trackrecord kita, baik pendidikan, pengalaman kerja, prestasi, pengalaman berorganisasi, project2 riset, karya tulis atau publikasi media, penghargaan/award, dll. Nah dalam CV juga biasanya disertakan scanning dokumen2 yang mendukung CV tersebut, misalnya ijazah, transkrip nilai, sertifikat training, sertifikat toefl dll. Sementara resume idealnya hanya satu lembar dan memuat informasi sangat ringkas tentang pendidikan dan pengalaman kerja, tergantung tujuan dari Resume itu sendiri. 

2. Dalam membuat CV jangan sampai lupa menulis serta surat pengantar yang berisi maksud/tujuan di kirimnya CV tersebut. Kecuali kawan2 membuat terpisah dari CV nya. Jadi si penerima CV tahu untuk apa CV itu dikirimkan. 

3. Sebuah CV yang baik menyertakan foto kalian yang terupdate loh. Jadi pastikan foto yang dilampirkan dalam CV adalah foto terbarumu. Foto ini juga harus diperhatikan ya bernilai formal.. jadi jangan pakai fotomu sedang tertawa lebar atau sedang bergaya :D dll... boleh saja memasukan foto-foto semi-formal, misalnya kegiatan2 training mu, nah ini dimasukkan di halaman lampiran misalnya. 

4. Jangan lupa alamat rumah yang bisa dijangkau, email, dan no telepon mu yang bisa di hubungi, ini adalah syarat vital suatu CV.

5. Sebuah CV yang baik harus ditandatangani, bisa dalam bentuk scanning kalau kalian mengirim via email. 

6. Nah ini adalah sesuatu yang kadang kita suka lupa, menyertakan kartu identitas apakah KTP atau passpor. Sebuah CV dianggap valid kalau kalian menyertakan identitas kalian..

7. Sebagai tambahan, yang juga diperlukan adalah design. Sebuah CV yang kreatif harus inovatif juga. Jadi kalian harus mendisign CV tersebut. Design yang sederhana, seperti membuat kotak, page border, cover CV.. dll

Contoh Cover CV:




8. Hmm.. apa lagi yaaa..... (Nanti kutambahkan kalau sudah muncul lagi di kepalaku)


Nah sebetulnya dengan membrowsing, aku yakin kawan-kawan bisa menemukan banyak Ilmu menyiapkan CV yang baik. Jangan lupa kalau “mood” kalian akan sangat penting dan mempengaruhi performance CV nya loh. Jadi ceria lah selalu... :D

Yang terpenting dalam membuat CV adalah tonjolkan lah apa yang menjadi "prestasi" kalian dan perkuat itu sebagai sebuah karakter "unik" yang tidak dimiliki rival-rival kalian sebagai sesama applicant. Tapi kalian harus mempertanggungjawabkan apa yg disampaikan dalam CV, jadi jangan memasukan informasi yang tidak benar.

Oh ya ini kan versiku yaa, jadi kalian tetap bebas menilai apa yang baik menurut kalian.. ekspresikan dirimu..

Chayoooo................... Semangat!!!! \m/

Mar 2, 2012

Refleksi Hacker Muda II


Tiba-tiba aku teringat dengan pernyataan professor Abdullah dari Univ. Mesir dengan statementnya “hacker adalah a semi-criminal” ketika ditanya pendapatnya soal wikileaks di TV Al-Jazeerah dan tahun 2010 aku membuat posting di forum x-code tentang refleksi hacker muda lalu mendapat kritik dari para senior, salahsatunya menyebut “jangan menjustifkasi kegiatan hacking kalau tidak terjun jauh didalamnya.“ 

Ya, menjadi hacker itu seperti menjadi peneliti yang melakukan eksplorasi. Sebagai contoh hacker menemukan bug disatu website kemudian berhasil masuk ke halaman login admin, kegiatan masuk ini adalah ilegal bukan? Tapi lalu apa yang ia harus lakukan. Mengirim email kepada sysadmin atau langsung mempatchingnya tanpa melakukan stealing, leaking apalagi defacing dengan merubah index laman utama. Log yang dimiliki sysadmin tersebut akan memuat teknik attacks yg sang hacker lakukan, sementara sang hacker memastikan jejaknya tidak akan sampai kena trace.

Sysadmin akan belajar bagaimana mengupgrade security websitenya dan sebaliknya si hacker belajar melakukan improvisasi system. Inilah hacking sesungguhnya, hacking yang juga dimaksud abah Abimanyu dalam pernyataannya “menjebol sistem” dalam wawancara ku dengan beliau Cybercrime dan Tantangan Security Indonesia, yaitu untuk memberi warning dan learning. 

Itu dia kenapa dalam hacking ditanamkan ETHICS. Ini yang akan menjadi batasan SANG HACKER dalam mengeksplorasi. Security Hacking jelas beda dengan aksi Exploit yang kriminal misalnya ddos attack atau aksi-aksi lain untuk kepentingan pribadi dan merugikan si target. 

Kadang dikalangan pelaku hacking sendiri, serangan ddos adalah sesutu yg tidak mudah untuk diajukan agar dipidanakan karena pengalaman dan jiwa exploiter yg tidak bisa dinafikkan. Tidak usah jauh2, ketika DC dibuat down hampir 3 minggu lamanya, om petimati, om ketek, om schumbag dan kawan2 melakukan tracing terhadap si attacker. Kami menemukan pelakunya, lalu bagaimana mengantarkan ia kepada pengadilan, bukanlah hal yang mudah, karena hacker punya cara sendiri dalam menuntaskan masalah. DC berterimakasih karena semakin tahu bagaimana melakukan banyak improvisasi dalam mengamankan servernya. Ternyata tidak semua hal di dunia maya diselesaikan dibawah payung hukum negara, karena hacking memiliki etika dan kultur/budaya dikalangan hacker itu sendiri. 

Sebagai seorang yang berlatarbelakang pendidikan politik, aku berusaha memperkenalkan bagaimana hacking itu menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan bahkan cenderung terintervensi kepentingan penguasa -dalam kehidupan modern yang bersentuhan dengan internet dan ekonomi-politik bahkan kekuatan kapitalis- karenanya aku berbagi wawasan cyber-politik.

Sebagai haktivist aku berbagi idealisme dan conviction tanpa pernah mengajari bagaimana melakukan defacement atau ddos, melainkan melakukan hacking komputer untuk membuat internet berguna bagi perubahan bangsa. 

Paling tidak inilah yang sedang kami lakukan, aku, om ketek dan kawan-kawan ingin berbagi idealisme dan kembali mengenalkan etika untuk para hacker muda, ketika semakin tumbuh dan berkembangnya satu keyakinan bersama bahwa “peraturan ada hanya untuk membatasi.”

Well Indonesia sangat kekurangan orang-orang pintar yang mau berbagi kesadaran dalam etika, kesadaran dalam motif/filosofis, bahkan kesadaran dalam hukum “cyberlaw” untuk kawan-kawan hacker muda.

Itulah alasan kenapa hari ini aku lebih banyak membuat artikel yang bersifat refleksi atau pengembangan wawasan ketimbang menyebar tutorial exploit karena aku menemukan satu kenyataan bahwa banyak hacker yang mengajarkan bagaimana melakukan hacking tapi tidak memberi tahu “kenapa harus melakukan hacking”.. 

Kenapa kita tidak memulai perubahan itu dari sekarang, karena Hacking adalah Inovasi dan Hacker adalah Inovator...

Kenali dirimu “hack yourself before gain the access” kata om Schumbag, or “hacking dosa”kata om Casper_SPY...

Pahami etika dalam aksi-aksi kita, ciptakan kultur positif dikalangan Komunitas-komunitas kita dan mulailah kembali mengingat dan mempelajari hukum-hukum konvensional “cyberlaw” di dunia maya jika kita ternyata telah melupakannya...

Salam Perubahan.!!! 

Feb 25, 2012

Hackito Ergo Sum - Aku Meretas Karenanya Aku Ada


Author : Cakill Schumbag


Cyberground, pemaparan dari sebuah ekosistem terselubung yang merapalkan paradigma dualisme dari masing-masing personal agar tetap pada eksistensinya. Setiap pelaku hacking komputer yang menjunjung tinggi semangat open source akan mengalami seleksi alam untuk suatu pencapaian apakah menjadi seorang elite hacker, aktivis dengan misi pembelaan ideloginya agar di dengar ke segala lapisan masyarakat, dengan upaya pengamanan sistem komputer lebih baik, walau sejatinya hacker bersifat anonym, dan pergerakan yang pesat secara independen, terdapat pesan moral di dalamnya yang menyampaikan alasan apa dan bagaimana mereka bisa berdiri sampai detik ini hingga ke depannya, menginterpretasikan perannya melalui karya-karya impresif, dengan mengkristalnya insting pemberontakan menjadi semacam konsumsi sehari-hari untuk produktivitas dalam pencarian jati diri mereka. Di dalam prosesnya terdapat fase yang tak di sadari namun cukup penting untuk menjadi tiket menyempurnakan idealismenya.


Fase Hacker dan Analogi Kepompong

Suatu ketika seekor kepompong yang akan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu bergantung di bangku taman, berjuang memaksakan dirinya melewati lubang kecil itu, kemudian kupu-kupu tersebut  berhenti membuat perubahan untuk dirinya, tanpa di sadari seseorang sedang mengamati steps (langkah-langkah) perubahan itu lalu mencoba membantu dengan cara memotong sisa dari kekangan kepompongnya, hingga kupu-kupu itu berhasil keluar dengan mudahnya, namun dia mempunyai tubuh gembung, kecil dan sayap-sayap yang menciut, seseorang tadi berharap nantinya akan tumbuh sayap yang merekah indah menghias cakrawala, seiring berjalannya waktu, namun semua itu takkan pernah terjadi, kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut, dia tidak pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya  sedemikian, sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita, jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita, ketika kita menginginkan kemudahan Tuhan berkehendak lain supaya kita belajar untuk menjadi lebih baik nantinya.

Jika kupu-kupu tadi melewati tahapnya melalui jalan yang sebagaimana mestinya,tentu dia takkan terlunta dalam perjalanan hidupnya, sama halnya seorang hacker pemula yang memaksa untuk menjadi seorang elite tanpa mencari kekurangan dalam dirinya, melegalkan copycat dari sebuah code yang telah termanifestasi, Show me the Code” hingga pemakaian alat bantu yang membuatnya miss-understanding, hanya memanfaatkan tanpa harus tahu bagaimana alat tersebut bekerja, bila kupu-kupu yang bermetamorfosa secara alamiah, dengan kepakan yang indah kelak siap mengkombinasikan sayapnya di antara bunga-bunga yang bersemi, mampu menggaungkan teriakannya dari sebuah code hingga ke penjuru dunia, untuk sebuah perubahan.


Black or White on Hacking Passion

Hasrat seseorang berada di suatu jalur untuk mencapai cita-cita hanyalah sebuah kebijakan yang di pilihnya, dimana terdapat tidak atau iya, 0 atau 1, salah atau benar, hitam atau putih, karena hidup adalah pilihan, dan pilihanpun bukanlah sesuatu yang jahat, karena kejahatan sesungguhnya tidak pernah ada di dunia ini, kejahatan adalah ketiadaan kasih Tuhan di hati manusia, dan kebaikan akan selalu kita temui di setiap episode kehidupan, jika seseorang memilih untuk jahat, sejatinya adalah sebuah siklus pencarian jalan untuk menuju kebaikan yang hakiki, tanpa di sadarinya. Karena Tuhan memberi opsi untuk dipilih, maka manusia yang sudah diberi kemampuan membuat suatu keputusan, idealnya tahu jalan apa yang harus dipilih.

Dalam kejahatan terdapat pembelajaran untuk kebaikan, setidaknya seorang peretas akan tahu bagaimana cara melakukan agresi system terhadap target, probabilitasnya mereka akan terus mencari melakukan aksi hacking karena mereka menyadari akan keberadaannya di jalur yang semestinya, hacker meretas karenanya hacker ada, berbagai motif di jalaninya dengan beragam ekspektasi, yang memaksanya belajar untuk tetap aman tidak meninggalkan jejak, naluri berburu yang tajam, mendenguskan persepsi rasional demi mengintegrasikan dan memperkecil kemungkinan di susupi oleh hacker lain, entah sistem yang telah dikuasainya atau sistem pribadinya. Jika tidak meretas, maka eksistensi seseorang tidak wujud sebagai sosok ‘Hacker.’


Hack Yourself Before Gain the Access

Seorang peretas sejati, tidak hanya mencari sebuah kelemahan pada sistem, tapi juga menganalisa kekurangan dalam dirinya. Sebuah mindset yang harus diubah, karena reaksi spiritual mampu mengendalikan emosional seseorang, dan emosional-lah yang bertanggung jawab atas intelligent seseorang, bahwasanya hacking yang berdasarkan inteligence akan mencurahkan sebuah filosofis mengapa-bagaimana dunia ini terbentuk dengan wawasan secara global.

Hacker adalah manusia biasa yang ingin di dengar, di terima, bahkan di pandang oleh manusia lainnya, di belantara maya tak menutup kemungkinan mereka berbeda pendapat satu sama lain tentang filosofi hacking yang dipilihnya, menimbulkan pula pro-kontra pada sesama diantaranya, mereka berargumen, berpolitik untuk mencari sebuah kebenaran, bukan untuk pembenaran, aksi yang di dasari pola pikir terstruktur secara dinamis tentunya menjelmakan sebuah maksud dan tujuan, dalam hal ini mengapa mereka masih tegak dengan bendera perangnya.

Merekalah yang memerangi kebodohan dengan membagi pengetahuannya secara bebas, dengan mudahnya hacker menunjukkan kemampuannya, menggerakkan perkembangan dunia berkomputasi secara luas dan berdedikasi, namun hacker sesungguhnya adalah seseorang yang mampu mengenali karakteristik pribadi mereka, sesuai hukum alam, orang pandai kalah dengan orang cerdas, dan orang cerdas kalah dengan orang licik, apabila sang hacker tadi masih rentan untuk di perdayai, mereka akan dengan mudah di jerumuskan.


Dedicated to : Bunga_Mataharry and Mala Schumbag (never want to leave you)

Special thank's : Nofia ‘Rapiah’ Fitri, KeTEk, Wenkhairu, Syn_attack, Mywisdom, Adoet, X_intrudo, and you and Greetz : for all devilzc0de team (DC gay club – pinky the cheerleaders diare club) and many Indonesian hacktivist, Jayalah Indonesiaku.

Feb 17, 2012

“Freedom on Internet” Pasca SOPA/PIPA: Antara Kebebasan Informasi, Hacktivism & ”Market Interests”



Oleh: Nofia Fitri AZRIEL

“....this bill would establish a system for taking down websites that the Justice Department determines to be dedicated to copyright infringement. The copyright owner would be able to commence a legal action against any site they deem to have "only limited purpose or use other than infringement," and the copyright owner would be allowed to demand that search engines, social networking sites and domain name services block access to the targeted site. It would also make unauthorized web streaming of copyrighted content a felony with a possible penalty up to five years in prison.”


Kutipan diatas adalah point penting Rancangan Undang undang (RUU) SOPA/PIPA yang diajukan anggota parlemen US. Apa sebetulnya yang membuat isu ini menjadi kontroversi dan bagaimana dunia menyikapi fenomena yang kini mulai meredam tersebut, namun telah memunculkan satu tawaran baru ‘OPEN’ karena ketakutan akan ACTA dan pertanyaan tentang ‘freedom on internet.’ 


SOPA & PIPA: Sebuah Deregulasi 

Dunia Maya (bahkan dunia nyata) kembali diguncang isu yang menarik perhatian banyak kalangan dari Akademisi, Policy Makers (pembuat kebijakan) dan Stake Holders, Researcher, Big Companies sampai Internet User/Netter. Stop Online Piracy Act (SOPA) dan Protect Intellectual Property Act (PIPA) menjadi buah bibir Januari, menuai protes di dunia maya hingga demonstrasi konvensional di wilayah real. SOPA & PIPA adalah RUU yang membatasi para pengguna internet terkait hak cipta. Sederhananya RUU tersebut adalah bentuk meregulasi kembali ‘deregulasi’ hal-hal yang terkait dengan aktivitas di Internet yang melibatkan masyarakat dunia karena minimnya ‘rules’ yang dapat menertibkan internet users. Perlu ditekankan bahwa membuat aturan, tidak melulu membatasi, melainkan juga menegakan keadilan. 


Feb 7, 2012

Hack the Political-Economy Interests on the Internet War


(Kepentingan Ekonomi-Politik dalam Perang Internet)

Oleh: Nofia Fitri


‘Jagad Maya ini diciptakan siapa? Jagad maya ini milik siapa? Jagad maya ini dikuasai siapa? Jagad Maya ini disisipi kepentingan siapa? dan JAGAD MAYA ini untuk siapa?’



INTERNET dan ‘User’ 

Kemajuan teknologi Internet sesungguhnya dapat mendidik penggunanya ‘user’ menjadi lebih kritis. Namun sayangnya sistem pendidikan dinegeri ini tidak sepenuhnya mendukung individu untuk melakukan analisis ‘issue’ dalam sudut pandang yang variant. Tulisan ini dibuat untuk berbagi wawasan politik dasar bagi para pengguna internet pemula dalam memahami setiap persoalan yang berkaitan dengan diri kita sebagai si ‘user’ di dunia maya.

Ketika kita menjadi ‘user’ internet ada beberapa hal yang melekat dalam diri kita namun kadang tidak disadari: pertama, seorang internet user sama dengan seseorang yang tidak pernah ‘aman’ dalam sistem yang terkoneksi oleh kabel dan terfasilitasi oleh rangkaian-rangakaian kode yang terprogram sebagai menjadi ‘nyawa’ dari dunia cyber. Sewaktu-waktu kita dapat menjadi korban dari keawaman akan teknologi. 

Lalu kedua, seorang internet user sama dengan seseorang yang telah rela untuk menjadi bagian tidak hanya dari kemudahan tapi juga kerumitan yang tercipta di ruang-ruang maya.

Dan ketiga, yang kadang tidak terlalu menjadi ‘concern’ bahkan sering terabaikan oleh kita adalah seorang internet user sama dengan seseorang yang dituntut untuk membuka luas wawasannya tentang konstalasi global (ekonomi, politik, sosial, budaya, dll) karena ruang maya dimana ia melakukan interaksi dengan berbagai macam orang adalah tempat dimana masyarakat se-dunia berkumpul dengan segala macam kepentingan yang berbeda dan sewaktu-waktu dapat dintervensi oleh pemilik kekuasaan ataupun pemilik modal. 


Jan 9, 2012

E-Government Indonesia untuk Demokrasi Bangsa

Oleh: Nofia FITRI


Kemajuan teknologi internet hari ini sesungguhnya bermanfaat untuk menghasilkan suatu konsensus sosial-politik yang didasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan online dengan melibatkan rakyat dan pemerintah melalui diskusi ruang publik. Setidaknya hal tersebutlah yang mulai terjadi di negara-negara maju dan berkembang yang mendukung prinsip-prinsip demokrasi dan eksistensi ruang maya. Konsensus kedua belahpihak tersebut nantinya akan menghasilkan satu kebijakan bersama ‘common decision’ yang berfungsi sebagai input dalam pembuatan kebijakan ‘making policy process’ oleh para decision makers dan stakeholders. Disinilah prinsip-prinsip demokrasi dan internet atau yang istilahnya dikenal sebagai ‘E-Democracy’ bertemu dalam konteks politik dan teknologi modern yang kemudian berujung kepada sebuah cita-cita ‘E-Government’ untuk masa depan bangsa.

Sistem E-Government hari ini kerap menjadi acuan dan jalan bagi negara-negara di dunia pendukung demokrasi untuk mewujudkan satu pemerintahan yang terbuka, efektif dan efisien. Namun sebelum penerapan E-Government, konsep E-Democracy atau yang juga dikenal sebagai Demokrasi Digital tersebut terlebih dahulu menjadi bahan olahan penting para akademisi, technocrats maupun pemerintah-pemerintah di dunia dalam membentuk masyarakat sejahtera yang melibatkan teknologi internet di dunia modern.


Pemerintah dan E-Democracy: Sebuah Kebutuhan Indonesia