Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Aug 17, 2011

Refleksi Jurnalisme, Pasca Wikileaks

Oleh: Nofia Fitri


“You can change the world with the right words”


Pers Global dan Wikileaks

“Revolusi, Jurnalisme dan Investigasi” seperti menjadi kata-kata keramat di penghujung tahun lalu setelah mencuatnya kontroversi organisasi whistleblower wikileaks. Revolusi jurnalisme investigasi pada akhirnya terlempar sebagai sebuah ‘statement membakar’ tersebar luas di kalangan media dan publik dunia menjadi penutup catatan panjang kemandulan jurnalisme investigasi global.

Statement yang didorong oleh mencuatnya fenomena wikileaks, organisasi whistleblower berbasis di Swedia yang mempublikasikan ribuan dokumen-dokumen rahasia negara hasil bocorannya pun menarik perhatian para scholar dunia. Emilly Bell dari London School of Economic and Politics menyatakan “the emerging of wikileaks case forces journalist and news organizations to demonstrate to what extent they are now part of an establishment in their duty to report.” Dalam kata lain “wikiLeaks exposes the degree to which normal journalism has lost its watchdog role.”

Dalam kontorversinya wikileaks beroperasi memanfaatkan kemajuan teknologi komputer, menjalin koneksi dengan ribuan pendukung dalam dunia maya, serta berkolaborasi secara ‘simbiosis mutualisme’ paling tidak dengan beberap media berkelas international, The New york Time (AS), The Guardian (UK), Der Spiegel (Jerman), La Monde (Perancis) dan seperti yang baru-baru ini diberitakan dengan media Rusia...

Merefleksi wikileaks sesungguhnya bukan menempatkan posisi sebagai pendukung atau penghujat organisasi whistleblower tersebut, melainkan melihat tatanan baru dalam kostalasi global dimana masyarakat dunia kembali mempertanyakan kebebasan pers dan jurnalisme investigasi.


Revolusi Journalisme

“If the freedom of speech is taken away then dumb and silent we may be led, like sheep to the slaughter." ~ George Washington

Peristiwa 9/11 bisa jadi satu instrumen penting dalam menganalisis kebebasan pers dalam tatanan global, dan tentu saja mempengaruhi konstalasi nasional. Meskipun demikian nafas kebebasan pers di tanah air tercatat sebagai hasil reformasi 1998 dengan menumbangkan kekuasaan otoriter Orde Baru. Berbagai amandemen Undang-undang negara memunculkan ratusan media-media lokal dari cetak hingga elektronik bebas menyebarkan produk-produk jurnalistik mereka.

Revolusi jurnalisme dimulai dari menjamurnya sosok-sosok pemberani menantang arus global. Jurnalisme investigasi kembali bergairah ditandai dengan konsistennya media-media international dalam mempublikasikan fakta-fakta dibalik kerja pemerintah. Bahwa mereka yakin publik perlu informasi, menuntut keterbukaan dan media percaya prinsip kebebasan pers tidak dibatasi kekuasan.



Berkaca dari Media Asing

“The rise of Internet journalism has opened a new front in the battle to protect free speech.” (New York Times, Editorial (US), February 21, 2008)

Media-media pers asing seperti Der Spiegel misalnya, mendorong masyarakat untuk menarik suatu kesimpulan atau paling tidak merefleksikan suatu berita, tidak hanya sebatas memperoleh suatu informasi lalu ditelan bulat-bulat untuk kemudian menjadi sejarah masa lalu. Peran-peran ini lah yang harus dimulai media-media pers Indonesia dimana jurnalisnya memiliki kemampuan analisis masalah, sehingga informasi yang disajikan menjadi padat yang ketika publik membaca tidak sebatas ‘proses scanning.’

Kejadian yang direportasekan Media-media pers nasional jika disuguhkan dengan analisis dan sentuhan sejarah dapat memberikan nilai dan mutu suatu berita. Karenanya media-media nasional harus mulai memberdayakan jurnalis yang sekaligus ‘analis’ untuk memproduksi berita-berita bermutu, yang selain bertujuan untuk memberikan informasi kepada publik tentang apa yang terjadi didunia hari ini, juga merefleksi masa lalu dan memprediksi masa depan.


Jurnalist dan ‘Conviction’ Merubah Dunia

“Karena kekuatan bahasa dapat merubah dunia, dan ketajaman pena mampu memberi bentuk baru tatanan dunia masa depan” (Nofia Fitri, Winter 2011, Turkey)

Tidak hanya sebatas terinspirasi John Pilger dan Naomi Klein, (tokoh Indonesia) menjadi jurnalis hari ini adalah suatu ‘langkah berani’ untuk mulai merubah dunia. Saya adalah sesorang yang percaya bahwa ada tiga profesi di dunia yang mampu memberikan bentuk baru pada wajah tatanan global: (1) artis; (2) hacker; dan (3) jurnalis.

Bagi jurnalis, media tidak sebatas ‘alat’ kendaraan profesi, melainkan ruang ‘sensitif’ dalam menyalurkan informasi, inspirasi serta keyakinan diri, sementara bagi media, jurnalis bukan sebatas ‘alat’ pekerja untuk mencapai tujuan perusahaan, memberikan informasi kepada publik atau memperoleh profit, melainkan sebagai ‘nyawa’ dari keberlangsungan hidup tentang visi dan misi yang dijunjung suatu news media. Diantara keduanya terdapat harmoni dimana kerja-kerja mencerdaskan publik nantinya akan menghasilkan masyarakat haus informasi dan ‘aware’ terhadap fenomena disekitar mereka.

“Senjataku tidak menembakan peluru ke targetnya, tidak juga mencecerkan darah ketika melukai targetnya. Aku tidak melakukan pengisian-ulang amunisi selama ‘keyakinan’ dan independensiku tak tergoyahkan. Aku adalah Jurnalis yang akan merubah dunia.”


*Nofia Fitri aktif sebagai Jurnalis Mahasiswa semasa menempuh pendidikan studi S1 Ilmu Politik, JAKARTA.

No comments: