Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Jun 6, 2011

Understanding the HACKTIVISM


Imagine if computer hackers, the daredevils of the networked world, suddenly became principled political activists.. if they had a mission besides breaking and entering; if they had more to prove than that they are smarter than whoever designed your computer system, if their targets were selected as part of well organized, thoroughly researched, international human rights campaigns.” (NAOMI KLEIN)

Fenomena wikileaks dimana kemajuan teknologi melalui dunia cyber digunakan untuk tujuan-tujuan politik sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Tahun 1998 digegerkan dengan kasus ‘JE’ seorang hacker muda Inggris yang berhasil mengakses sekitar 300 website di dunia termasuk India's Bhabba Atomic Research Centre, dengan menyusupkan pesan anti-nuklir. Komunitas cyber pro-demokrasi yang menamakan dirinya Hong Kong Blondes menyusupkan pesan tentang HAM dan pengungkapan kasus Tiananmen melalui website pemerintah China sementara aksi cyber mendukung gerakan Zapatista dimotori oleh komunitas yang menamakan dirinya the Electronic Disturbance Theater (EDT) berawal di 1994 berujung dengan diaksesnya situs pribadi presiden Meksiko, selain menciptakan software floodnet untuk mengundang partisipasi massa.

Yang juga menarik misalnya concern komunitas hackers British the Electrohippies terhadap isu-isu globalisasi yang secara terang-terangan menolak World Trade Organization (WTO), hingga pesan-pesan kolompok ‘political crackers’ World's Fantabulous Defacers dalam memperjuangkan Palestina dan Kasmir. Tak ketinggalan komunitas hackers Portugal Urban KaOs dalam hal pembelaan mereka atas kemerdekaan Timor-timur yang berhasil menyusupi website pemerintah Indonesia ditahun 1990-an. Kelompok-kelompok hacktivist tersebut dianggap terinspirasi kuat oleh eksistensi sebuah komunitas hackers berbasis di Texas the Cult of the Died Cow (cDc) pencipta Goolag, dan menjadi kelompok hackers pertama yang memplopori istilah Electronic Civil Disobedience (ECD).

Sementara itu sungguh masih hangat ditelinga bagaimana komunitas pendukung wikileaks Anonymous-Anonops melancarkan aksi pembalasan dendam (payback) terhadap VISA, Mastercard dan Paypal dengan dalih memperjuangkan ‘kebebasan’ dalam dunia cyber. Kasus-kasus hacking terbesar ini bagi sebagian pihak dianggap sebagai sebuah pergerakan berarti ‘revolusi teknologi’ dalam hal kepedulian kaum cyber (hacker-aktivis) terhadap konstalasi politik global, karenanya semakin mempopulerkan istilah hacktivism.


Electronic Civil Disobedience

Istilah hacktivism mungkin tidak terlalu akrab ditelinga masyarakat umum. Istilah ini mendefinisikan bagaimana kemampuan teknis-komputer digunakan untuk tujuan-tujuan politik, dan dapat digolongkan sebagai aksi pembangkangan civil menggunakan media teknologi atau Electronic Civil Disobedience. Melalui disertasi menarik doktoral ilmu politiknya di Harvard yang tak tanggung-tanggung di bimbing oleh Sidney Verba, Alexandra Samuel mengutip dari Denning (1999) yang mengumpamakan hacktivism sebagai “the marriage of political activist and computer hacking.” Desertasi yang bertujuan untuk mengurai tali pengikat antara dunia hacking dan aktivitas politik itu melihat bagaimana kemajuan teknologi dengan bermunculannya hackers yang memiliki concern terhadap politik sebagai bentuk partisipasi politik di era modern. Sementara Graham Meikle sebagaimana dikutip dari Hacking Global Justice mendefinisikan hactivism jauh lebih detail sebagai:

“an engaged politics which seeks solutions in software in the search for a spesific technological fix to a social problem. So it refers to any use of computer technology for political ends, including diverse on-line practices: cross-border: information sharing, action planning and coordination via personal emails: chat rooms and electronic distribution list.”

Hacktivism adalah suatu kepedulian politik aktivis cyber yang dibangun atas kesadaran para pelakunya. Pola gerak para aktivis-aktivis cyber tersebut selain dilandasi prinsip dasar seorang hacker tentang kebebasan juga pengetahuan dan wawasan mereka mengenai konstalasi politik global. Melalui “The Hacktivismo Declaration” cDc menegaskan we will study ways and means of circumventing state sponsored censorship of the Internet and will implement technologies to challenge information rights violations.”

THAT STATE-SPONSORED CENSORSHIP OF THE INTERNET IS A SERIOUS FORM OF ORGANIZED AND SYSTEMATIC VIOLENCE AGAINST CITIZENS, IS INTENDED TO GENERATE CONFUSION AND XENOPHOBIA, AND IS A REPREHENSIBLE VIOLATION OF TRUST.

(Hacktivismo and Cult of the Dead Cow 2001)


Hackers’ Convictions dan Kontroversinya

Sebelum publik jauh menterjemahkan hacktivism dalam prakteknya penting untuk kembali kepada pemahaman dasar tentang aktivitas hackers dan prinsip-prinsip yang mereka yakini, mempertimbangkan arus informasi yang sampai kepada kalangan publik tidak selamanya dapat dibenarkan. Ada satu hal yang menggelitik ketika dalam sebuah wawancara online dengan Al-Jazeerah, seorang professor Jurnalistik di Mesir menyebut hacker sebagai ‘a semi-criminal.’ Pandangan seperti inilah yang umum sampai kepada telinga masyarakat, padahal sesungguhnya hacker adalah hacker, seseorang yang memahami komputer dan jauh mengeksplorasi pengetahun dan keahliannya untuk menemukan solusi bagi masalah-masalah teknis. Mereka dapat menjadi kriminal jika melakukan aksi-aksi kriminal (hal yang kemudian mempopulerkan istilah black-hat), sama halnya dengan professor atau dokter yang juga dapat menjadi kriminal jika melakukan aksi-aksi kriminal. Satu prinsip penting hackers dalam aktivitas-aktivitas mereka adalah bahwa mereka meyakini tentang peran krusial mereka sebagai promotor kebebasan informasi melalui dunia cyber. Peran ini lah yang kadang menjerumuskan hackers kedalam aksi kriminal sebagaimana dalam aktivitas hacktivism yang dapat digolongkan atas legal dan illegal.

Legal atau illegalnya aksi hacking komputer memang masih sebuah isu bergerak dalam dunia maya dan real, dimana upaya mengkodifikasi hukum-hukum cyber masih terus menuai kontroversi ketika bersentuhan dengan prinsip kebebasan informasi dan berekspresi. Namun demikian dalam pandangan dasarnya aksi-aksi hacktivism berupa site defacement, Denial of Service (DoS) sampai political cracker berupa perusakan website misalnya digolongkan illegal karena sifatnya yang merusak dan merugikan korban. Sementara virtual sit-ins digolongkan aksi legal yang lebih bersifat persuasif dengan melibatkan pengguna-pengguna internet secara global sebagai bentuk kesadaran pribadi. Aksi virtual sit-ins dianggap merefleksikan prinsip demokrasi dalam dunia maya, dimana para pengguna internet diundang untuk turut mendukung satu aksi hacktivism seperti melakukan vooting politik.

Ide-ide dasar aktivitas hacktivism sesungguhnya adalah tentang kebebasan berekspresi, memperoleh informasi, memperjuangkan hak asasi manusia (HAM), hingga mempromosikan satu pandangan politik individu atau kelompok. Bagi hacktivist, setiap aksi yang mereka lakukan dilandasi oleh prinsip-prinsip kemerdekaan yang mereka yakini sebagaimana Steven Levy dalam bukunya Hackers (1984): informasi harus bebas, menolak otoritas dan mempromosikan prinsip distribusi. Dalam the Concience of Hackers, the Mentor yang dikenal sebagai ‘bapak hacker’ sudah terlebih dahulu mempromosikan pembelaan atas aktivitas hacker dan tuduhan kriminalitas. Manifesto yang dicetuskan tersebut sangat bernuansa pemberontakan terhadap kenyataan dunia modern.

“….tapi bagi kalian kami penjahat. Kami adalah penjahat, sedangkan kalianlah yang membuat bom nuklir, mengobarkan peperangan, membunuh, berbuat curang, berbohong, dan berusaha membuat kami percaya bahwa itu semua demi kebaikan kami. Ya aku adalah penjahat. Kejahatanku adalah keingintahuanku. Kejahatanku adalah menjadi lebih pintar dari kalian, sebuah dosa yang tidak akan bisa kalian ampuni… Kau bisa menghentikan satu, tapi kau tak akan bisa menghentikan semuanya....”

Sementara manifesto of hackers versi Mckenzie Wark menekankan “whatever code we hack, we create the possibility of new things entering the world.” Aktivitas hacking memang secara umum melahirkan trobosan-trobosan baru dalam dunia komputer dan internet, namun bagi sebagian kalangan kondisi tersebut mengacu kepada apa yang disebut ‘kebablasan teknologi.’ Dengan menggunakan pendekatan filsafat misalnya, “A Question about Technology” sebuah literatur paling populer dalam memahami kemajuan teknologi dengan pendekatan filsafat. Dalam buku yang sering menjadi referensi tersebut, Heiddeger sang filsuf abad modern melihat kemajuan teknologi sebagai sebuah ‘sinyal’ yang menghancurkan batas-batas kemanusiaan, atau dalam istilah Borgmann ‘komputer sebagai produk hyperintelligen.’ Namun demikian persoalan apakan aktivitas komputer dan penggunanya sudah melampaui batas-batas moral-kemanusian sesungguhnya adalah sesuatu yang begitu abstrak untuk dijelaskan ketika mereka bersentuhan dengan politik, sama halnya dengan politik itu sendiri.

Ted Julian dari Yankee Group menilai perkembangan hacktivism melalui sepenggal kalimatnya "when we look back years from now we'll see this as a tipping point in 'hactivism' going from largely a theoretical threat to something that's more a day-to-day issue." Sementara jika aksi-aksi aktivis cyber bagi beberapa kalangan dinilai sebagai bentuk aksi terrorisme, Conway berargumentasi:

“Hacktivists, although they use the Internet as a site for political action, are not cyberterrorists either. They view themselves as heirs to those who employ the tactics of trespass and blockade in the realm of real-world protest. They are, for the most part, engaged in disruption not destruction.

Para pelaku hacktivism menyatakan bahwa dalam berkontribusi terhadap dunia, maka yang mereka lakukan adalah melakukan apa yang mereka bisa, menggunakan keterampilan yang mereka punya. Suatu aktivitas yang semakin mengkrucut memunculkan istilah-istilah seperti ‘hacking global justice’ dan ‘human right hacking’, hingga ‘high-tech politics’ ini memperlihatkan suatu fenomena bagaimana aktivitas hacking semakin mewarnai konstalasi politik global dan memberikan suatu wajah baru tentang keterlibatan publik dan dunia modern.

Kiranya apa yang menjadi isi kepala kaum hacktivist dapat terefleksikan melalui kalimat berikut:

Ketika pemerintah-pemerintah di dunia memilih cara perang, berlomba-lomba membangun kekuatan nuklir, dan menciptakan pembohongan publik dengan dalih memberikan damai pada bumi, maka setiap hacker pun berhak memilih cara hacking dengan dalih memberikan damai pada bumi.”

"SAVE THE WORLD, HACK THE PLANET, FREE THE UNIVERSE"


Saatnya HACKER Muda Merubah DUNIA Karena di Dada Kita Ada GARUDA!!!!

By Nofia Fitri (1st Publication at Jasakom "Refleksi Wikileaks dan Hacktivism")

No comments: