Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Feb 19, 2011

10 REFLEKSI UNTUK HACKER MUDA

By: NOFIA FITRI

Hacker and Himself

1.
Waktu cewek gue ngadu kalau FB nya di hacked orang, yang gue lakuin bukan lantas ngehack balik tuh orang melainkan masang sistem keamanan ganda dilaptop cewek gue dan modifikasi sistem security FB nya. Ngebales serangan tsb dengan cara yg sama cuma westing-time, bakal nunjukin kalau gue gk beda jauh sama tuh orang, punya kemampuan dibawah standar trus ngisengin orang. (Kalau gue yg jadi ceweknya, gue bakal nyalahin cowok gue yang gagal memproteksi account FB gue!!!).

2.
Sial website pribadi gue dihacked, trus berusaha giat untuk pembalasan dendam. Dont be stupid!!!, yang harus dilakukan adalah membangun sistem keamanan baru dengan mempelajari kelemahan-kelemahan yang berhasil ditembus penyerang. Cyber War is not such a stupid thing, it’s about how to raising your ability and knowledge through experience, your enemies are those people who mastery the informations, keep them as secret and put so much restriction on internet freedom. Musuhmu adalah hasrat untuk menjaili orang lain dan melakukan tidakan-tindakan negatif untuk kepentingan pribadi merugikan orang lain.

3.
Gak pernah ngisengin komputer ‘tetangga.’ Kenapa mesti menjadikan orang ‘awam’ teknologi sebagai kobran, sama sekali gk ada tantangannya dan gak bertanggungjawab. Kalian cuma membuang-buang waktu mengerahkan kemampuan untuk hal-hal iseng dan gk berguna. Dengan mengobrak-abrik privacy orang lain, hacker tidak jauh berbeda dengan wartawan2 gosip di TV2. Gue lebih milih nebus pertahanan JESTOR, Google Books, etc buat dapetin buku and artikel yang bisa gue bagi-bagiin ke kawan2 cyber. Lebih milih bikin hidden account baru diperpustakaan2 Universitas beken di dunia macem Cambridge, Harvard, ANU, MIT, supaya bisa ngakses informasi-informasi cerdas dan berguna buat ningkatin kemampuan.


Hacker and Society

4.
Masih ada yang nanya gimana cara nge-deface web org lain and masih ada yg nanya gimana cara nyuri password FB, Yahoo, etc org lain, dont be silly you idiot!!! Tujuannya Cuma buat iseng and nguji kemampuan, what a pity. Silahkan uji kemampuan kawan sendiri dengan permittion, kalian bisa belajar banyak dari membangun persekawanan yang positif, and keep on your track. Kalau emang mau disebut keren ikutin gaya hacker gaul Inggris yang nge-deface lebih dr 300 website dan nyisipin pesan anti nuklir, that was awasome!

5.
Cari duit gratis, ngumpulin dolar and belanja pake kartu kredit orang (even bukan punya orang Indonesia) you’re not a hacker, you’re a muger!! You stupid carder!!. Apa bedanya sama mencuri or ngerampok. Setiap kejahatan diakumulasi dan gk ada satu hal pun yang tidak meperoleh ganjaran kelak. Gak ada cerita carder jadi kaya terus hidup seneng dengan hasil jarahannya, yang ada jadi penghuni penjara. Kalau Anonops berhasil dengan memberi pelajaran untuk VISA, Master dan Paypal, yang mereka lakukan adalah memberi pelajaran tentang prinsip keberpihakan capital pada kekuasaan konspirasi dan memperjuangkan Internet Freedom.

6.
Pihak Rektorat dalam waktu dekat akan mengumumkan kebijakan baru yang mewajibkan mahasiswa memenuhi kehadiran dikelas 90 % untuk syarat lulus MK dan minimal grade C. Gak ada cara lain selain nge-hack website kampus, gue pilih site defacement dengan menyusupkan pesan kalau kecerdasan seseorang gak bisa diukur dari kehadiran dikelas sementara mereka jauh lebih bisa mengeksplorasi pengetahuan dan skill diluar wajib absensi.

7.
Salah satu produk ‘kondom’ mempromosikan produk barunya dengan membagi-bagi secara bebas produknya di jalan-jalan dan melakukan poling diwebsite yang isinya mengukur tingkat partisipasi generasi muda dalam penggunaan pengaman dalam hubungan seksual mereka. STUPID, MORON!!! Kampanye merusak generasi MUDA untuk mendorong mereka melakukan seks bebas, GET LOST YOU KONDOM!!!


Hacker and Politics

8.
Pengadilan yang isinya mafia-mafia rakus duit ngejatuhin hukuman ke bokap gue karena dituduh spionase pemerintah. Kekuasaan konspirasi akhirnya ngebawa bokap ngedekem di penjara padahal yang gue tahu beliau adalah aktivis politik yang sesungguhnya berteriak untuk keadilan dan kesejahtraan rakyat dengan mengkritisi penguasa. Hack sistem keamanan penjara yang terkomputerisasi!!!! Kantor-kantor polisi yang korup!! dan pengadilan yang ‘mucikari’ alias pelacur hukum kelas elit (Plus..hack hidup dan matinya para koruptor, kejar mereka sampe pintu neraka, musnahkan dan buat mereka melebur di dunia maya!!! Gantung Gayus pake kabel Optik trus kubur jasad busuknya di selat Jawa, siapa tahu akses internet lebih baik)

9.
Ganyang Malaysia!! Kampanye hacker Indonesia yang sesungguhnya mengibarkan bendera perang. Hacking politik (Hacktivism) adalah suatu tindakan dimana kemajuan teknologi dalam hal kemampuan teknis komputer digunakan untuk menyisipkan pesan-pesan humanity (kemanusiaan) -anti penindasan anti totalitalitarian, global justice, HAM dan dunia masa depan yang damai tanpa perang tanpa nuklir, bukan sentimen nasionalisme dengan mengibarkan bendera perang seolah menguji kemampuan siapa yang lebih hebat. Menjadi anak muda yang nasionalis adalah mereka yang terus belajar dan siap mengerahkan kemampuannya untuk menghancurkan ‘kebodohan’ anak-anak bangsa, mereka yang siap mengkontribusikan kemampuannya untuk memajukan dunia IT tanah air dan mengkampanyekan melek teknologi sampai ke pedalaman.

10.
Waktu lagi surfing bebas gue nemuin titik kelemahan sistem keamanan komputer badan inteligen satu negara penguasa yang menjadi arus komunikasi lintas dunia. Intinya mereka sedang mengembangkan senjata nuklir untuk menciptakan tatanan dunia masa depan dibawah kekuasaan negara-negara rakus. leack datanya dan kirim ke wikileaks (Hahaha…kalau yg ini beresiko tinggi hanya dilakukan oleh yang berpengalaman, :p dont try this at your computer!!!).

Hacker Learns from WORDS

Oleh: Nofia Fitri




Belajar dari kata-kata untuk menjadi hacker sejati….




Menjadi hacker sejati tidak hanya dibutuhkan sebatas pengetahuan dan pengalaman diwilayah teknis. Selain kemauan dan kerjakeras seorang hacker juga harus memiliki idealisme dan ‘kebijaksanaan/bijak.’


Dalam novel populer Wizardry Compiled tentang Hacker’s Wisdom (Kebijaksanaan Hacker) yang ditulis Rick Cook sang hacker-jurnalis dimana ia percaya bahwa hacking adalah ilmu sihir "magic is real, unless declared integer." (Inget kan kalau Mitnick pun sering menyebut hal yang sama)


Berikut kutipan-kutipan keren dari novel tsb yang mungkin menarik dan berguna untuk ngebangun ‘jiwa hacker’ kalian:


Catatan: Dalam novel tersebut penulis lebih menyebut hacker sebagai programmer.




- Programmer's Axioms


• “You can always tell a good idea by the enemies it makes.”


• “Everything always takes twice as long and costs four times as much as you planned.


• “It's never the technical stuff that gets you in trouble. It's the personalities and the politics.”




- Programmer’s sayings


• “Those who can't do, teach.”


• “Living with a programmer is easy. All you need is the patience of a saint.”


• “Applications programming is a race between software engineers, who strive to produce idiot-proof programs, and the Universe which strives to produce bigger idiots.”


• “So far, the Universe is winning.”


• “The three most dangerous things in the world are a programmer with a soldering iron, a hardware type with a program patch and a user with an idea.”


• “Whenever you use a jump, be sure of your destination address.”


• “Always secure your files. You never know who's lurking about.”


• “Never argue with a redhaired witch. It wastes your breath and only delays the inevitable.”


• “You never find out the whole story until after you've signed the contract.”


• “A jump gone awry is one of the hardest bugs to locate.”


• “Never give a sucker an even break. Especially not if he's a big mean sucker.”


• “Programming is like pinball. The reward for doing it is the opportunity of doing it again.”


• “At some time in the project you're going to have to break down and finally define the problem.”




- Computer’s Sayings


• “You can't do just one thing.”


• “Friends come and go, but enemies accumulate.”


• “And sometimes the the real trick is telling the difference.”




Mudah-mudahan kalian bisa mengambil makna dari setiap axioma dan statement-statement diatas. Sebagai penutup ada ungkapan-ungkapan underground lain yang populer dikalangan hacker, misalnya “show me the codes” or “if you’re really a hacker, try to hack me!!!!!!!!!”


Remember!!!! “hacker solves the problem, not makes it worse.”

Filosofi Cracking Software

Oleh: Nofia Fitri

Pernah denger istilah kalau ahli komputer (and either hackers or crackers) kadang lebih filosofis dari filsuf itu sendiri? Atau istilah kalau ahli komputer kadang lebih politis dari politisi itu sendiri? Dan lebih ekonomis daripada ekonom itu sendiri?

Filsafat dan Motif Cracking

Kalau kalian pernah melakukan cracking software pasti akrab sama yang namanya program dissassembler Win32dasm, or debugger Olydbg/softice Win APÄ°, sampai Ultra Edit32, Hiew, etc. Tools tersebut digunakan untuk meng-crack software, demi untuk menciptakan sesuatu yang beda!!! Dari patching, serial fishing alias hunting serial number, sampai bikin KeyGens. Suatu proses yang menantang, kalau kata filsuf ‘menjelajahi ruang dan waktu untuk menemukan solusi kehidupan.’

Sebelum berfilosofi diwilayah cracking software, sekedar ngingetin, kalau dulu biasanya nge-crack software mungkin hanya membutuhkan waktu 5 smpai 30 menit, tapi sekarang? Hmm kelihatannya programmer makin cerdas berstrategi dalam karya-karyanya ya. Sebagai contoh, berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk nemuin perintah-perintah ‘registrasi’? Istilah-istilah seperti registrasi error, incomplete or incorrect information, or bla..bla…bla… hari ini gk seutuhnya tercetak ‘percis’ alias seperti yang muncul di nag-screen begitu code-code badan software ditrace di dissassembler kamu. Mau jump sana jump sini, push sana push sini, break sana break sini, patch sana patch sini mesti sukses melewati proses panjang terlebih dulu karena perintah-perintah registrasi tersebut diproteksi dengan sempurna sama empunya alias susah dikenali or istilahnya ‘a key based protection’ salah-salah nyampelah di ‘file invalid’ alias gagal sudah karena usaha anda telah di ‘cut-down.’ Kalaupun gk nemu option itu, tetep waktu mengdissassembler software abis ditahapan awal, misalnya karena software gk punya opsi registrasi, kalau kata pemain bola ‘kerja-keras di 15 menit pertama untuk membobol pertahanan lawan.’

Saya gak akan ngebahas lebih jauh tentang proses dissassembler softwarenya sendiri, karena kawan-kawan pasti lebih tahu.

Selanjutnya kita bermain-main dengan filosofi. Motif cracking software: dalam salahsatu tutorial cracking yang ditulis mahasiswa asing, dia ngungkapin ‘saya melakukan software karena ilham mimpi, menjelajahi dunia dan tertantang menakhlukannya’ aneh ya kedengarannya. Ceritanya bergini, para cracker (atau pun hacker) adalah orang-orang yang senang berkelana, masuk kewilayah-wilayah yang belum pernah terjamah, mengebiri ratusan dan ribuan kode dalam bahasa pemprogaman. Prinsip mereka ‘semakin sulit software di dissassembler atau semakin susah sistem komputer satu web diakses, semakin memuncak lah adrenalin mereka untuk menaklukannya.’ Jadi salah satu motif cracking atau hacking adalah ‘kesenangan menemukan tantangan.’ Kalau kata Descartes bapak filsafat pencerahan ‘cogito ergo sum’ artinya ‘karena berfikir saya ada’, nah kalau waktu nge-crack otak gak dikuras abis sampe pusing tujuh-keliling jangan pernah berfikir bahwa kalian sukses ‘eksis’ sebagai si ahli komputer. Kalau dalam politik, make otak gagal saatnya make otot, tapi kalau dalam teknologi komputer, make otot buat apa? Otak adalah ‘perangkat’ utama dalam proses cracking software, bahwa si cracker dituntut untuk berfikir filosofis, ‘menemukan sesuatu yang sifatnya dasar atau fundamental (namun kadang terhidden dan memerlukan perhitungan yang matang).’ Ciri seorang filsuf adalah menemukan suatu ‘esensi’ terpendam yang ada dalam kehidupan tapi belum tersentuh manusia. "To boldly go where no one has gone before."

Motif kedua erat kaitannya dengan ‘prinsip distribusi’ bahwa karya-karya bermanfaat tersebut seharusnya dapat dinikmati setiap pengguna komputer atau mereka yang membutuhkan. Para cracker software seneng banget kalau tutorialnya berguna buat orang lain dan kalau software-software yang didissassemblernya disebar ke kalangan maya, nginfoin serial number or bagi-bagi Keygens, macem ‘berbuat baik untuk mendapat pahala’  Gak jarang dari mereka yang nawarin diri untuk bantuin ngecrack software (thanks buat yg satu ini). Kalau diskusi sama kawan politik or hukum, mereka pasti pernah nyebut John Rawls, filsuf modern yang juga pemikir politik-hukum yang terkenal dengan prinsip ‘distribusi keadilan’ (distribution of justice). Nah buat mereka yang terlibat dalam cracking software, prinsip distribusi adalah apa yang disebut ‘fair’ (adil) dalam dunia maya, kalau dapet bocoran software yang dibebaskan orang lain maka harus memberi keadilan untuk orang lain dengan juga membebaskan software dan mendistribusikannya.

Motif ketiga mereka yang ‘melek politik-paham ekonomi’ bakal bilang ‘software-software tersebut seharusnya dapat dimanfaatin setiap orang tanpa harus membayar mahal.’ Bayangin kalau file-recover (saya smpet mo beli sebelum ktmu kawan baik hati) harganya 150 dollar, bisa buat beli memori dan hard disk baru. Suatu nafas anti-kapitalis, anti hegemoni dan eksploitasi korporasi, mengutamakan solidaritas, satu prinsip bahwa manusia sesungguhnya bebas namun terikat. Bebas berkarya, bebas merubah satu karya namun terikat oleh lingkungan dimana ia tinggal, kalau mengutip Rousseau “man was born free and he is everywhere in chains.”

Motif terakhir, untuk tujuan pendidikan.


Ekonomi-Politik

Nah sekarang saatnya merespon motif cracking No.3. langsung saja, kalau dalam kajian ekonomi-politik ada yang namanya ‘intangible assets’ (hal-hal berharga yang tidak dapat diraba) yang bikin software jadi mahal. Bahwa sesuatu yang lahir dari knowledge or skills sangat bernilai atau apa yang disebut dengan ‘the value of information.’ Karena begitu berharganya ‘karya cipta’ tersebut si programmer yang kekeh sama prinsip ‘fundamental paradox of information’ gak akan secara gampang ngejual karya ciptanya ke perusahaan, simple karena dia gak mau softwarenya dimonopoli sama satu korporasi tertentu. Tapi ada juga programmer yang otaknya ‘uang’ aja, berstrategi supaya karya ciptanya bisa menghasilkan profit, karenanya informasi sangat mahal dan berfikir dua kali untuk menyerahkannya ke korporat. Kalau programmer kasih software tapi gk kasih informasi gimana cara buat softwarenya, gimana perusahaan mau deal? Nah untuk mengakomodasi hal tersebut alhasil terbentuklah apa yang namanya ‘Firms’ horizontal integration’ dimana satu software dihandle (diproduksi dan didistribusi) sama lebih dari satu perusahaan untuk menjamin tidak adanya monopoli. Tapi gimanapun juga karena perusahaan pastinya berorientasi profit, jadilah software-software tersebut terjual mahal karena mempertimbangkan profit untuk lebih dari satu perusahaan.

Jadi kalau RMS sejak lama berteriak soal open sources dan kemerdekaan software, ini persoalannya. Untuk menjawab ‘luka batin’ para programmer kalau perusahaan-perusahaan berorientasi profit tersebut bakal memonopoli produk. Kenyataannya sama juga kan, tidak dimonopoli pun melibatkan banyak perusahaan, jatuhnya mahal-mahal juga. Ya itulah ekonomi-politik, makanya lumrah kalau aksi-aksi hacking or cracking berangkat dari mereka yang menentang monopoli korporat atas satu karya cipta, itulah politik. Sekali lagi programmer kadang lebih politis dari politisi itu sendiri. Yang juga mungkin bisa bikin kalian buka mata, pernah denger politisasi anti-virus, kalau virus-virus komputer yang beredar sesungguhnya diciptakan oleh para perusahaan pembuat anti-virus. Kalau masalah tidak diciptakan, maka tidak ada pasar, alias kalau gk ada virus siapa yang mau beli anti-virus…

Sampai sini dapet gak poinnya?


Well, saya cuma mau ngajak kawan-kawan bermain-main sedikit dengan filsafat dan ekonomi-politik dalam kaitannya dengan pembangunan teknologi (komputer)…jadi kita gk melihat segala sesuatunya dari sebelah mata.

Memahami filosofi dalam berkomputer-ria adalah bahwa dalam melakukan suatu aksi kita selalu dilandasi oleh sebuah pandangan atau alasan ‘kenapa sampai berbuat hacking or cracking’ gk sebatas iseng, just for fun, keuntungan pribadi atau nguji kesabaran orang lain. Kalau bermaksud menguji kemampuan pribadi, jangan pernah lupa kalau kalian hidup ditengah2 masyarakat yang berbeda kepribadian.

Artikel ini tidak menganjurkan atau melegalkan ‘cracking’ terhadap software-software komputer, karena sesungguhnya software adalah ‘produk intelektual’ programmer yang mesti dihargai, hanya saja dihakciptakan perusahaan ‘yang memproduksi dan mendistribusikan.’ Sekarang balik lagi ke urusan manusia dan filosofi aksi-aksi mereka. Apa bener kalau yang bikin software itu alias si programmer sepakat ciptaannya di jual mahal ke publik? Balik lagi deh nanya ke si programmer, mereka bakal jawab ‘programmer juga manusia.’  Kalau nanya ke produser or distributornya mereka juga bakalan jawab ‘pasar perlu produk sementara produser perlu modal, hasilnya sama-sama mendapat profit.’