Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Sep 10, 2016

Sosialis-Demokrat ala Syahrir

Oleh: Nofia Fitri

Diantara tokoh kemerdekaan Indonesia yang kaya akan konsep-konsep tentang Bangsa yang Merdeka, yang kaya akan pemikiran hasil telaah terhadap sejarah dan hasil analisis dari sekian banyak pemikir-pemikir besar dunia, adalah Sutan Sjahrir, putra Minang kelahiran Padang Panjang dibulan Maret 1909, salah satu penggores sejarah Indonesia yang pernah memimpin bangsa dengan pengabdiannya sebagai Perdana Menteri selama 3 kali di era ketika Indonesia tengah belajar mengadopsi ide-ide Demokrasi yang berbasis kerakyatan.
Walaupun kaya akan pemikiran-pemikiran politik nan brilian, sosok Sutan Sjahrir yang akrab disapa “Bung Sjahrir” ini dikenal sebagai tokoh pencetus kemerdekaan yang tidak haus akan kekuasaan politik. Kematiannya di Pembuangan, pengalamannya mengarungi kehidupan dari penjara ke penjara, pembelajarannya dari satu kota ke kota-kota lain, serta tulisan-tulisannya tentang Politik, ekonomi sampai ke Puisi dan wanita sungguh pantas mengantarkannya menjadi salah seorang tokoh besar dari Kebangkitan Asia.
Ciri perjuangan sosok Sjahrir adalah perjuangan Sosialisme, Nasionalisme, Demokrasi dan dengan cara damai tanpa kekerasan, juga selalu mengedepankan teknik diplomasi. Sebagian perjanjian-perjanjian Pemerintah Indonesia dengan penjajah diera kolonialisasi dipelopori oleh Sjahrir. Dengan kesadaran bahwa Belanda terlalu kuat untuk dilawan dengan senjata, Sjahrir tahu betul tentang diperlukannya diplomasi damai demi menghindari pertumpahan darah dan korban yang mungkin berjatuhan dari peperangan fisik.

Sep 4, 2016

Sjahrir: Sosialisme, Nasionalisme, dan Demokrasi dengan Diplomasi





Oleh: Nofia Fitri

PENDAHULUAN

Diantara tokoh kemerdekaan Indonesia yang kaya akan konsep-konsep tentang Bangsa yang Merdeka, yang kaya akan pemikiran hasil telaah terhadap sejarah dan hasil analisis dari sekian banyak pemikir-pemikir besar dunia, adalah Sutan Sjahrir, putra Minang kelahiran Padang Panjang dibulan Maret 1909, salah satu penggores sejarah Indonesia yang pernah memimpin bangsa dengan pengabdiannya sebagai Perdana Menteri selama 3 kali di era ketika Indonesia tengah belajar mengadopsi ide-ide Demokrasi yang berbasis kerakyatan. 

Walaupun kaya akan pemikiran-pemikiran politik nan brilian, sosok Sutan Sjahrir yang akrab disapa “Bung Sjahrir” ini dikenal sebagai tokoh pencetus kemerdekaan yang tidak haus akan kekuasaan politik. Kematiannya di Pembuangan, pengalamannya mengarungi kehidupan dari penjara ke penjara, pembelajarannya dari satu kota ke kota-kota lain, serta tulisan-tulisannya tentang Politik, ekonomi sampai ke Puisi dan wanita sungguh pantas mengantarkannya menjadi salah seorang tokoh besar dari Kebangkitan Asia.

Ciri perjuangan sosok Sjahrir adalah perjuangan Sosialisme, Nasionalisme, Demokrasi dan dengan cara damai tanpa kekerasan, juga selalu mengedepankan teknik diplomasi. Sebagian perjanjian-perjanjian Pemerintah Indonesia dengan penjajah diera kolonialisasi dipelopori oleh Sjahrir. Dengan kesadaran bahwa Belanda terlalu kuat untuk dilawan dengan senjata, Sjahrir tahu betul tentang diperlukannya diplomasi damai demi menghindari pertumpahan darah dan korban yang mungkin berjatuhan dari peperangan fisik.

Sep 1, 2016

Demokrasi Radikal Mouffe: Penolakan Terhadap Liberalisme dan Upaya Mewujudkan Demokrasi Substansial


Oleh: Nofia Fitri



Perkembangan demokrasi dari masa ke masa mengalami fase yang terus berubah-ubah. Dari gagasan demokrasi yang berangkat dari akar filosofis tentang ide-ide kebebasan hingga melahirkan Liberalisme, sampai kepada perdebatan antara demokrasi yang substansial dengan demokrasi yang prosedural. Perbedaan model demokrasi tersebut terjadi diberbagai belahan dunia, salahsatunya, karena karakter unik dari masing-masing negara yang ketika menyerap ide-ide demokrasi tetap tidak ingin kehilangan jati dirinya. Sebut saja India sebagai salahsatu negara demokrasi terbesar di dunia yang justru masyarakatnya dibangun atas sistem kelas. Model demokrasi prosedural yang ketara semacam ini, kemudian menuai berbagai macam kritik dari pengusung demokrasi substantif. Diantara kritik atas demokrasi prosedural adalah gagasan demokrasi radikal yang diplopori oleh dua orang pemikir kiri Chantal Mouffe dan Ernesto Laclao.

        Gagasan Demokrasi Radikal Mouffe yang tertuang dalam bukunya “The Paradox Democracy” sebetulnya terinspirasi dari pemikir aliran kanan asal Jerman, Carl Schmitt. Dimana yang membedakannya adalah kritik Mouffe terhadap demokrasi parlementer dan demokrasi konstitusional. Dalam pandangan Mouffe, demokrasi parlementer dan demokrasi konstitusional yang sangat prosedural sesungguhnya hanya mencerminkan fenomena liberalisasi demokrasi. Karena itu menurutnya, demokrasi harus diradikalkan demi mencapai demokrasi yang substansial. Gagasan Mouffe berangkat dari dua konsep utama yaitu adversary dan relasi agonistik.[1] Konsep adversary dipakai Mouffe untuk mengganti konsep “lawan” atau enemy dalam kehidupan politik, dimana dalam demokrasi liberal, lawan atau oposisi sebenarnya memiliki landasan yang sama yang ingin dicapai, yaitu kebebasan dan keadilan. Kemudian apa yang disebut dengan relasi agonistik dalam konsepsi Mouffe adalah hubungan yang terbentuk antar adversary tersebut.

Feb 9, 2015

Menjejaki Sistem Cybersecurity Pemerintah Indonesia Terpusat

Oleh: Nofia Fitri


Cybersecurity menjadi isu yang nyaris mencuri perhatian publik dan semua kalangan dari berbagai latar belakang, khususnya ditengah-tengah mencuatnya isu penyadapan baru-baru ini. Kelemahan-kelemahan Pemerintah Indonesia di level cybersecurity pun menjadi sorotan dunia, baik di lingkungan regional maupun global. Pemerintah Indonesia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak negara Penyerang dalam hal kelemahan sistem yang berhasil di exploitasi tanpa pertanggungjawaban diplomatik dalam isu penyadapan misalnya, melainkan juga harus mengoreksi sistem keamanan negara itu sendiri. 
Banyak kritik bermunculan dari berbagai kalangan, khususnya peneliti-peneliti Cyber Security asing terkait sistem keamanan siber Indonesia, diantaranya yaitu kurang sinerginya kerja lembaga-lembaga atau think-tank Pemerintah di bidang keamanan siber dalam fungsi-fungsinya. Mengutip pernyataan Kathleen Rustici[i]:
“Indonesia faces numerous challenges in developing its Cybersecurity capabilities, including coordinating across a large and difuse government. Currently, the government has no coordinated strategy for cybersecurity.... “

Kemudian, mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak yang mengkaji isu-isu Cybersecurity Indonesia, diantaranya:

“As Indonesia continues to develop rapidly and increase its cyber dependency in the process, the country will become more vulnerable toa growing number of sopisthicated threats, some of which may be politically motivated, hence Indonesia must put cybersecurity into a wider societal context and make necessary preparation to meet this challenge.”[ii]

Jul 15, 2014

Filosofi Cantik adalah Peduli... Thanks ‘CARING’ for Care

Oleh : Nofia Fitri (YCPA 2012)


“The mirror tells only a half of the story, the true beauty comes from helping others.” (Snow White’s Mother)


Dalam cerita versi modernnya, sang putri ‘Snow White’ berusaha untuk memahami arti ‘cantik’ sebagaimana kata-kata Sang Ibu dalam kutipan diatas. Seperti halnya bundaku selalu mengingatkan “jika putriku termasuk ke dalam wanita-wanita yang peduli terhadap sesama, Ia lah si Cantik itu, bersama mereka yang memberi pertolongan kepada orang-orang disekelilingnya dengan Ilmu pengetahuan dan kekuatan cinta.”


Apakah Cantik Itu?

Ketika aktivis mahasiswa dulu, mereka menyebutku “Singa Betina” dan kawan-kawan aktivis tidak pernah sekalipun meletakkan embel-embel cantik dalam persepsi mereka terhadap aktivis wanita, bisa jadi karena istilah cantik dianggap berbanding terbalik dengan kecerdasan dalam pandangan beberapa dari mereka. Dengan demikian apakah dapat diterima suatu pendapat bahwa “mereka yang cantik tidaklah cerdas atau sebaliknya mereka yang cerdas tidaklah cantik.” Lalu bagaimana dengan tokoh-tokoh politisi wanita dunia seperti sosok Benazir Bhutto, Hillary Clinton sampai Evita Peron?


Berpolitik: Artis Juga Manusia


Oleh: Nofia Fitri

“Apakah artis berfikir bahwa sibuknya mengurusi bangsa sama dengan melakukan shooting striping yang membuat mereka lelah karena kadang tidur hanya tiga atau empat jam sehari. Apakah artis berfikir bahwa mengurusi negeri sama dengan melakukan shooting iklan yang waktunya sebentar akan mendapat fee yang ’Nauzubillamindzalik’. Atau artis berfikir bahwa kritik-otokritik adalah bagian dari membongkar privacy mereka seperti kebanyakan terjadi dalam dunia infotaiment setiap harinya, mewarnai dunia pertelevisian dan tidak jarang membuat muak beberapa kalangan. Lalu bagaimana artis dapat menghadapi dan menyikapi demonstrasi mahasiswa, mungkin mereka akan menganggap AKSI sebagai tontonan dan hiburan untuk mengurangi tingkat stres mereka.”

“Mendekati tahun 2014 sebagai ajang Pesta Demokrasi terbesar di Indonesia, banyak kalangan memanfaatkan momentum tersebut untuk mencari ruang profesi baru. Dari menjadi Anggota Komisi Pemilihan Umum, Pemilik/Pengelola Partai, Broker Politik, Timsus, Jurkam, sampai mengkampanyekan diri sendiri untuk tujuan menjadi ‘Wakil Rakyat’ yang akan duduk diparlemen dari tingkat kabupaten, provinsi, sampai nasional. Tidak terlepas kaum selebritas ikut mengambil porsi, yang sesungguhnya mengundang skeptisisme masyarakat.”


Jul 1, 2014

Exploitasi keUNIX’an Jokowi… Kadang Kita Mencintai Tanpa Perlu Alasan

Oleh: Nofia Fitri

OMG!!! itulah yang terbesit dalam fikiranku ketika melihat bursa calon Gubernur Jakarta diwaktu lalu. Mulai dari pejabat incumbent yang mulai tidak disukai pemilihnya sendiri karena dianggap sedikit arogan sampai pejabat politik yang memangku jabatan –masih berkewajiban- di daerahnya masing-masing, yang saya fikir, singkat saja, sudah berkhianat kepada rakyat, karena tidak menuntaskan pekerjaannya sampai habis. Dan diantara jajaran nama-nama yang sebagian sudah dikenal tersebut, ternyata ada satu keunikan, yang selalu di elu-elukan, mendapat pujian dan sanjungan, dengan sedikit cacian dan begitu UNIX.


Ya… Social Media, setiap harinya dipenuhi berita tentang JOKOWI. Kampanye politik pun menjadi lebih ringan untuk Team Pemenangan Pemulu sang Cagub yang akan memimpin kota Metropolitan dengan sekian ragam masalah yang tumbuh dan berkembang. Publik terkontaminasi aktivitas “political campange”, secara sadar atau tidak sadar turut mengkampanyekan sosok yang dianggap akan memberi “udara” baru untuk tanah Jakarta yang semakin sesak. Poin penting yang harus digarisbawahi,kampanye massa inilah yang turut mensukseskan meluncurnya sang Tokoh UNIX dalam pertarungan Jakarta 1. Sedikitnya, Parpol pengusung boleh berbangga hati, tapi kemenangannya lebih kepada sebuah kemenangan Publik dan Kemenangan Figur UNIX.



Jun 30, 2014

Kenapa Perempuan Harus "Melek" Teknologi


Oleh: Nofia Fitri


Inikah hal-hal yang biasa kamu lakukan: menelfon pacar ketika ada masalah dengan laptopmu, mengirim sms kepada kawan ketika ada masalah kehilangan koneksi internet pada gadget mu? Mengantar komputer mu ke Tukang Servis padahal hanya untuk menginstall satu software yang sebetulnya sangat mudah..

     Yaa, hal-hal tersebut pun masih dilakukan banyak perempuan di dunia yang super modern ini, bahkan pada mereka yang pengguna setia teknologi gadget sekalipun. Mungkin kita masih bisa memaklumkan ketika perempuan yang menyetir mobilnya sendiri harus panik menelfon bengkel ketika tiba-tiba mogok di jalan, tapi untuk sebuah komputer? Apakah komputer jauh lebih complicated dari pada mobil. Melek teknologi tidak selamanya, karena user adalah master IT, melainkan karena keinginan untuk bisa menyelesaikan segala sesuatunya tanpa perlu bergantung kepada orang lain, khususnya untuk hal-hal kecil.



Dec 23, 2013

ISTANBUL adalah Jakarta, JAKARTA adalah Istanbul!!!


Oleh: Nofia Fitri

2010, tepat tiga bulan sebelum percobaan bom bunuh diri yang diklaim sebagai ulah PKK melukai sekitar 50 orang pengunjung Taksim -sebuah daerah yang menjadi salahsatu pusat kesibukan kota Istanbul- aku duduk dihalte terminal Taksim Square yang bersampingan dengan pos polisi dimana bom 2010 tersebut diledakan. Suatu pagi yang cerah sepanjang keberadaanku di Turki. Sambil memandang sibuknya pagi di Taksim, padahal hari itu adalah hari minggu, tidak pernah jauh dariku kamera dan laptop yang kugunakan untuk mendokumentasikan setiap gerakanku mengeksplorasi Istanbul pagi itu.

Bagiku, Istanbul adalah Jakarta, Jakarta adalah Istanbul. Crowdidnya kota Jakarta adalah crowdidnya Istanbul, amburadulnya tata kota Jakarta adalah amburadulnya tata kota Istanbul. Luxurynya Jakarta adalah luxurynya Istanbul.

"Holla Diary Ku.... Suasananya sumpah seru banget Big City, lokasi yang kalau diliat dari fisik bangunan ini termasuk kota yang tua, masyarakatnya ramah dan crowded. Pagi-pagi aktivitas kehidupan dah keliatan. Duduk dari Halte Taksim berlawanan sama Bambi Hotel, Square Hotel seru ngeliat orang lalu lalang, tapi yang paling keren udaranya cocok buat puasa, dingin angin sepoy-sepoy gak ngerasa summer. Seru ngeliat turis-turis baca peta, mulai dari yang bahasanya Inggris, Rusia, Jerman sampai bahasa Jepang. Mereka sibuk dengan komunikasi tubuh sama supir-supir taksi dan kalaupun banyak supir taksi tahu bahasa Inggris mereka tetap menuntut calon penumpangnya untuk berbahasa Turki."

Dec 21, 2013

Demokrasi, Pers dan Ruang Publik

Oleh: Nofia Fitri


Nafas jurnalisme adalah ‘freedom of Speech’ dan ‘freedom of information’ yang tidak lain juga berdiri sebagai prinsip-prinsip tegaknya demokrasi. Dengan demikian negara yang demokrasi adalah negara dengan peran-peran pers yang aktif dan memiliki ‘kebebasan’ dalam menjalankan fungsi-fungsi jurnalistiknya.


Demokrasi memberi ruang seluas-luasnya untuk kebebasan yang beretika dan bertanggungjawab. Dalam hal ini, media pers sebagai salahsatu pilar demokrasi memiliki peran mentransformasikan ‘informasi’ demi memberikan pendidikan kepada publik dengan mengedepankan akurasi informasi dan tentu saja ketidakberpihakkan atau netralitas media. 

Terpusatnya perhatian masyarakat Indonesia kepada trend demonstrasi menjelang keputusan kenaikan harga BBM belakangan ini secara tidak langsung juga mencukil kembali peran kuat media-media pers yang diharapkan dapat menyampaikan informasi dari sumber berita kepada publik.