Kau mungkin bisa menutup mulutku, menghentikan aksiku, bahkan memenjarakan aku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan kekuatan IDE, karena 'FIKIRAN' ku dapat merubah DUNIA meski dibawah ancaman mu! (Bunga Mataharry)

Jun 2, 2017

TERORISME, INTERNET DAN RADIKALISASI ONLINE





Oleh: Nofia Fitri

Gabriel Weimann dalam “Terror on the Internet: The New Arena, The New Challenges” menemukan bahwa pada tahun 1998 di internet diperkirakan hanya terdapat 12 situs kelompok teroris. Namun di 2003 nya mencapai angka 2.650 situs kelompok teroris, dan hingga 2014 sudah terdapat lebih dari 9.800 situs (Gabriel Weiman, 2016:30). Dari fakta berkembangnya situs-situs internet tersebut, pola-pola yang dilakukan kelompok teroris saat ini sebagaimana dipaparkan Agus Surya Bakti dalam Deradikalisasi Dunia Maya diantaranya adalah penyebaran ideologi melalui fasilitas website; pemanfaatan fitur media interaksi dan komunikasi seperti forum dan chatrooms, serta penggunaan media propaganda interaktif seperti youtube, facebook dan twitter.

May 30, 2017

Computer Hacking dan Perang Global: Memahami Cyber Warfare


Oleh: Nofia Fitri


Setelah aksi spionase ‘spy’ dunia maya yang dilakukan militer Cina dalam rangkaian serangan Byzantine Candor, serangan Stuxnet di Iran, Ghosnet di India, Aurora di Cina dan berbagai macam malwares, botnet, trojan atau jenis virus lainnya yang dapat mengancam sistem keamanan komputer manapun di seluruh jagad cyber, maka tidak ada kata ‘aman’ lagi di dunia maya. 

Ketika komputer terhubung dengan internet, itulah saat dimana setiap sistem dapat sewaktu-waktu menjadi target dari tangan-tangan berkepentingan, salahsatunya untuk tujuan politik. 


Nov 18, 2016

Fundamentalisme dan Penolakannya Terhadap Modernisme dalam Perkembangan Pemikiran Politik Islam


Oleh: Nofia Fitri 


            I.               Pendahuluan

Revolusi Islam Iran yang meruntuhkan sistem sekuler monarki pada tahun 1979 dianggap sebagai salah satu pemicu bangkitnya gerakan fundamentalisme dinegara-negara Islam. Sementara itu, Sekulerisme Turki, sebaliknya, kerap menjadi referensi dalam memahami bagaimana modernisme tumbuh dan berkembang dalam khasanah keilmuan Islam. Fenomena bertolak-belakang antara Fundamentalisme dan Modernisme dalam sejarah pemikiran politik Islam sesungguhnya semakin memperkaya khasanah keilmuan dalam konteks hubungan Negara dan Agama. Contoh Iran dan Turki sebetulnya bukan satu-satunya yang menjadi referensi kuat dalam mengenal bagaimana Fundamentalisme dan Modernisme dalam Islam menjadi pondasi berdirinya sebuah negara.


Sep 10, 2016

Sosialis-Demokrat ala Syahrir

Oleh: Nofia Fitri

Diantara tokoh kemerdekaan Indonesia yang kaya akan konsep-konsep tentang Bangsa yang Merdeka, yang kaya akan pemikiran hasil telaah terhadap sejarah dan hasil analisis dari sekian banyak pemikir-pemikir besar dunia, adalah Sutan Sjahrir, putra Minang kelahiran Padang Panjang dibulan Maret 1909, salah satu penggores sejarah Indonesia yang pernah memimpin bangsa dengan pengabdiannya sebagai Perdana Menteri selama 3 kali di era ketika Indonesia tengah belajar mengadopsi ide-ide Demokrasi yang berbasis kerakyatan.
Walaupun kaya akan pemikiran-pemikiran politik nan brilian, sosok Sutan Sjahrir yang akrab disapa “Bung Sjahrir” ini dikenal sebagai tokoh pencetus kemerdekaan yang tidak haus akan kekuasaan politik. Kematiannya di Pembuangan, pengalamannya mengarungi kehidupan dari penjara ke penjara, pembelajarannya dari satu kota ke kota-kota lain, serta tulisan-tulisannya tentang Politik, ekonomi sampai ke Puisi dan wanita sungguh pantas mengantarkannya menjadi salah seorang tokoh besar dari Kebangkitan Asia.
Ciri perjuangan sosok Sjahrir adalah perjuangan Sosialisme, Nasionalisme, Demokrasi dan dengan cara damai tanpa kekerasan, juga selalu mengedepankan teknik diplomasi. Sebagian perjanjian-perjanjian Pemerintah Indonesia dengan penjajah diera kolonialisasi dipelopori oleh Sjahrir. Dengan kesadaran bahwa Belanda terlalu kuat untuk dilawan dengan senjata, Sjahrir tahu betul tentang diperlukannya diplomasi damai demi menghindari pertumpahan darah dan korban yang mungkin berjatuhan dari peperangan fisik.

Sep 4, 2016

Sjahrir: Sosialisme, Nasionalisme, dan Demokrasi dengan Diplomasi






Oleh: Nofia Fitri

PENDAHULUAN

Diantara tokoh kemerdekaan Indonesia yang kaya akan konsep-konsep tentang Bangsa yang Merdeka, yang kaya akan pemikiran hasil telaah terhadap sejarah dan hasil analisis dari sekian banyak pemikir-pemikir besar dunia, adalah Sutan Sjahrir, putra Minang kelahiran Padang Panjang dibulan Maret 1909, salah satu penggores sejarah Indonesia yang pernah memimpin bangsa dengan pengabdiannya sebagai Perdana Menteri selama 3 kali di era ketika Indonesia tengah belajar mengadopsi ide-ide Demokrasi yang berbasis kerakyatan. 

Walaupun kaya akan pemikiran-pemikiran politik nan brilian, sosok Sutan Sjahrir yang akrab disapa “Bung Sjahrir” ini dikenal sebagai tokoh pencetus kemerdekaan yang tidak haus akan kekuasaan politik. Kematiannya di Pembuangan, pengalamannya mengarungi kehidupan dari penjara ke penjara, pembelajarannya dari satu kota ke kota-kota lain, serta tulisan-tulisannya tentang Politik, ekonomi sampai ke Puisi dan wanita sungguh pantas mengantarkannya menjadi salah seorang tokoh besar dari Kebangkitan Asia.


Sep 1, 2016

Demokrasi Radikal Mouffe: Penolakan Terhadap Liberalisme dan Upaya Mewujudkan Demokrasi Substansial


Oleh: Nofia Fitri




Perkembangan demokrasi dari masa ke masa mengalami fase yang terus berubah-ubah. Dari gagasan demokrasi yang berangkat dari akar filosofis tentang ide-ide kebebasan hingga melahirkan Liberalisme, sampai kepada perdebatan antara demokrasi yang substansial dengan demokrasi yang prosedural. Perbedaan model demokrasi tersebut terjadi diberbagai belahan dunia, salahsatunya, karena karakter unik dari masing-masing negara yang ketika menyerap ide-ide demokrasi tetap tidak ingin kehilangan jati dirinya. Sebut saja India sebagai salahsatu negara demokrasi terbesar di dunia yang justru masyarakatnya dibangun atas sistem kelas. Model demokrasi prosedural yang ketara semacam ini, kemudian menuai berbagai macam kritik dari pengusung demokrasi substantif. Diantara kritik atas demokrasi prosedural adalah gagasan demokrasi radikal yang diplopori oleh dua orang pemikir kiri Chantal Mouffe dan Ernesto Laclao.


Feb 9, 2015

Menjejaki Sistem Cybersecurity Pemerintah Indonesia Terpusat

Oleh: Nofia Fitri


Cybersecurity menjadi isu yang nyaris mencuri perhatian publik dan semua kalangan dari berbagai latar belakang, khususnya ditengah-tengah mencuatnya isu penyadapan baru-baru ini. Kelemahan-kelemahan Pemerintah Indonesia di level cybersecurity pun menjadi sorotan dunia, baik di lingkungan regional maupun global. Pemerintah Indonesia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak negara Penyerang dalam hal kelemahan sistem yang berhasil di exploitasi tanpa pertanggungjawaban diplomatik dalam isu penyadapan misalnya, melainkan juga harus mengoreksi sistem keamanan negara itu sendiri. 
Banyak kritik bermunculan dari berbagai kalangan, khususnya peneliti-peneliti Cyber Security asing terkait sistem keamanan siber Indonesia, diantaranya yaitu kurang sinerginya kerja lembaga-lembaga atau think-tank Pemerintah di bidang keamanan siber dalam fungsi-fungsinya. Mengutip pernyataan Kathleen Rustici[i]:
“Indonesia faces numerous challenges in developing its Cybersecurity capabilities, including coordinating across a large and difuse government. Currently, the government has no coordinated strategy for cybersecurity.... “

Kemudian, mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak yang mengkaji isu-isu Cybersecurity Indonesia, diantaranya:


“As Indonesia continues to develop rapidly and increase its cyber dependency in the process, the country will become more vulnerable toa growing number of sopisthicated threats, some of which may be politically motivated, hence Indonesia must put cybersecurity into a wider societal context and make necessary preparation to meet this challenge.”[ii]

Jul 15, 2014

Filosofi Cantik adalah Peduli... Thanks ‘CARING’ for Care

Oleh : Nofia Fitri (YCPA 2012)


“The mirror tells only a half of the story, the true beauty comes from helping others.” (Snow White’s Mother)


Dalam cerita versi modernnya, sang putri ‘Snow White’ berusaha untuk memahami arti ‘cantik’ sebagaimana kata-kata Sang Ibu dalam kutipan diatas. Seperti halnya bundaku selalu mengingatkan “jika putriku termasuk ke dalam wanita-wanita yang peduli terhadap sesama, Ia lah si Cantik itu, bersama mereka yang memberi pertolongan kepada orang-orang disekelilingnya dengan Ilmu pengetahuan dan kekuatan cinta.”


Apakah Cantik Itu?

Ketika aktivis mahasiswa dulu, mereka menyebutku “Singa Betina” dan kawan-kawan aktivis tidak pernah sekalipun meletakkan embel-embel cantik dalam persepsi mereka terhadap aktivis wanita, bisa jadi karena istilah cantik dianggap berbanding terbalik dengan kecerdasan dalam pandangan beberapa dari mereka. Dengan demikian apakah dapat diterima suatu pendapat bahwa “mereka yang cantik tidaklah cerdas atau sebaliknya mereka yang cerdas tidaklah cantik.” Lalu bagaimana dengan tokoh-tokoh politisi wanita dunia seperti sosok Benazir Bhutto, Hillary Clinton sampai Evita Peron?


Berpolitik: Artis Juga Manusia


Oleh: Nofia Fitri

“Apakah artis berfikir bahwa sibuknya mengurusi bangsa sama dengan melakukan shooting striping yang membuat mereka lelah karena kadang tidur hanya tiga atau empat jam sehari. Apakah artis berfikir bahwa mengurusi negeri sama dengan melakukan shooting iklan yang waktunya sebentar akan mendapat fee yang ’Nauzubillamindzalik’. Atau artis berfikir bahwa kritik-otokritik adalah bagian dari membongkar privacy mereka seperti kebanyakan terjadi dalam dunia infotaiment setiap harinya, mewarnai dunia pertelevisian dan tidak jarang membuat muak beberapa kalangan. Lalu bagaimana artis dapat menghadapi dan menyikapi demonstrasi mahasiswa, mungkin mereka akan menganggap AKSI sebagai tontonan dan hiburan untuk mengurangi tingkat stres mereka.”

“Mendekati tahun 2014 sebagai ajang Pesta Demokrasi terbesar di Indonesia, banyak kalangan memanfaatkan momentum tersebut untuk mencari ruang profesi baru. Dari menjadi Anggota Komisi Pemilihan Umum, Pemilik/Pengelola Partai, Broker Politik, Timsus, Jurkam, sampai mengkampanyekan diri sendiri untuk tujuan menjadi ‘Wakil Rakyat’ yang akan duduk diparlemen dari tingkat kabupaten, provinsi, sampai nasional. Tidak terlepas kaum selebritas ikut mengambil porsi, yang sesungguhnya mengundang skeptisisme masyarakat.”


Jul 1, 2014

Exploitasi keUNIX’an Jokowi… Kadang Kita Mencintai Tanpa Perlu Alasan

Oleh: Nofia Fitri

OMG!!! itulah yang terbesit dalam fikiranku ketika melihat bursa calon Gubernur Jakarta diwaktu lalu. Mulai dari pejabat incumbent yang mulai tidak disukai pemilihnya sendiri karena dianggap sedikit arogan sampai pejabat politik yang memangku jabatan –masih berkewajiban- di daerahnya masing-masing, yang saya fikir, singkat saja, sudah berkhianat kepada rakyat, karena tidak menuntaskan pekerjaannya sampai habis. Dan diantara jajaran nama-nama yang sebagian sudah dikenal tersebut, ternyata ada satu keunikan, yang selalu di elu-elukan, mendapat pujian dan sanjungan, dengan sedikit cacian dan begitu UNIX.


Ya… Social Media, setiap harinya dipenuhi berita tentang JOKOWI. Kampanye politik pun menjadi lebih ringan untuk Team Pemenangan Pemulu sang Cagub yang akan memimpin kota Metropolitan dengan sekian ragam masalah yang tumbuh dan berkembang. Publik terkontaminasi aktivitas “political campange”, secara sadar atau tidak sadar turut mengkampanyekan sosok yang dianggap akan memberi “udara” baru untuk tanah Jakarta yang semakin sesak. Poin penting yang harus digarisbawahi,kampanye massa inilah yang turut mensukseskan meluncurnya sang Tokoh UNIX dalam pertarungan Jakarta 1. Sedikitnya, Parpol pengusung boleh berbangga hati, tapi kemenangannya lebih kepada sebuah kemenangan Publik dan Kemenangan Figur UNIX.