Jul 15, 2014

Filosofi Cantik adalah Peduli... Thanks ‘CARING’ for Care

Oleh : Nofia Fitri (YCPA 2012)

“The mirror tells only a half of the story, the true beauty comes from helping others.” (Snow White’s Mother)

Dalam cerita versi modernnya, sang putri ‘Snow White’ berusaha untuk memahami arti ‘cantik’ sebagaimana kata-kata Sang Ibu dalam kutipan diatas. Seperti halnya bundaku selalu mengingatkan “jika putriku termasuk ke dalam wanita-wanita yang peduli terhadap sesama, Ia lah si Cantik itu, bersama mereka yang memberi pertolongan kepada orang-orang disekelilingnya dengan Ilmu pengetahuan dan kekuatan cinta.”


Apakah Cantik Itu?

Ketika aktivis mahasiswa dulu, mereka menyebutku “Singa Betina” dan kawan-kawan aktivis tidak pernah sekalipun meletakkan embel-embel cantik dalam persepsi mereka terhadap aktivis wanita, bisa jadi karena istilah cantik dianggap berbanding terbalik dengan kecerdasan dalam pandangan beberapa dari mereka. Dengan demikian apakah dapat diterima suatu pendapat bahwa “mereka yang cantik tidaklah cerdas atau sebaliknya mereka yang cerdas tidaklah cantik.” Lalu bagaimana dengan tokoh-tokoh politisi wanita dunia seperti sosok Benazir Bhutto, Hillary Clinton sampai Evita Peron?


BerPOLITIK: Artis Juga Manusia

“Apakah artis berfikir bahwa sibuknya mengurusi bangsa sama dengan melakukan shooting striping yang membuat mereka lelah karena kadang tidur hanya tiga atau empat jam sehari. Apakah artis berfikir bahwa mengurusi negeri sama dengan melakukan shooting iklan yang waktunya sebentar akan mendapat fee yang ’Nauzubillamindzalik’. Atau artis berfikir bahwa kritik-otokritik adalah bagian dari membongkar privacy mereka seperti kebanyakan terjadi dalam dunia infotaiment setiap harinya, mewarnai dunia pertelevisian dan tidak jarang membuat muak beberapa kalangan. Lalu bagaimana artis dapat menghadapi dan menyikapi demonstrasi mahasiswa, mungkin mereka akan menganggap AKSI sebagai tontonan dan hiburan untuk mengurangi tingkat stres mereka.”

“Mendekati tahun 2014 sebagai ajang Pesta Demokrasi terbesar di Indonesia, banyak kalangan memanfaatkan momentum tersebut untuk mencari ruang profesi baru. Dari menjadi Anggota Komisi Pemilihan Umum, Pemilik/Pengelola Partai, Broker Politik, Timsus, Jurkam, sampai mengkampanyekan diri sendiri untuk tujuan menjadi ‘Wakil Rakyat’ yang akan duduk diparlemen dari tingkat kabupaten, provinsi, sampai nasional. Tidak terlepas kaum selebritas ikut mengambil porsi, yang sesungguhnya mengundang skeptisisme masyarakat.”


Jul 1, 2014

Exploitasi keUNIX’an Jokowi… Kadang Kita Mencintai Tanpa Perlu Alasan

OMG!!! itulah yang terbesit dalam fikiranku ketika melihat bursa calon Gubernur Jakarta diwaktu lalu. Mulai dari pejabat incumbent yang mulai tidak disukai pemilihnya sendiri karena dianggap sedikit arogan sampai pejabat politik yang memangku jabatan –masih berkewajiban- di daerahnya masing-masing, yang saya fikir, singkat saja, sudah berkhianat kepada rakyat, karena tidak menuntaskan pekerjaannya sampai habis. Dan diantara jajaran nama-nama yang sebagian sudah dikenal tersebut, ternyata ada satu keunikan, yang selalu di elu-elukan, mendapat pujian dan sanjungan, dengan sedikit cacian dan begitu UNIX.


Ya… Social Media, setiap harinya dipenuhi berita tentang JOKOWI. Kampanye politik pun menjadi lebih ringan untuk Team Pemenangan Pemulu sang Cagub yang akan memimpin kota Metropolitan dengan sekian ragam masalah yang tumbuh dan berkembang. Publik terkontaminasi aktivitas “political campange”, secara sadar atau tidak sadar turut mengkampanyekan sosok yang dianggap akan memberi “udara” baru untuk tanah Jakarta yang semakin sesak. Poin penting yang harus digarisbawahi,kampanye massa inilah yang turut mensukseskan meluncurnya sang Tokoh UNIX dalam pertarungan Jakarta 1. Sedikitnya, Parpol pengusung boleh berbangga hati, tapi kemenangannya lebih kepada sebuah kemenangan Publik dan Kemenangan Figur UNIX.



Jun 30, 2014

Kenapa Perempuan Harus "Melek" Teknologi


Inikah hal-hal yang biasa kamu lakukan: menelfon pacar ketika ada masalah dengan laptopmu, mengirim sms kepada kawan ketika ada masalah kehilangan koneksi internet pada gadget mu? Mengantar komputer mu ke Tukang Servis padahal hanya untuk menginstall satu software yang sebetulnya sangat mudah..

     Yaa, hal-hal tersebut pun masih dilakukan banyak perempuan di dunia yang super modern ini, bahkan pada mereka yang pengguna setia teknologi gadget sekalipun. Mungkin kita masih bisa memaklumkan ketika perempuan yang menyetir mobilnya sendiri harus panik menelfon bengkel ketika tiba-tiba mogok di jalan, tapi untuk sebuah komputer? Apakah komputer jauh lebih complicated dari pada mobil. Melek teknologi tidak selamanya, karena user adalah master IT, melainkan karena keinginan untuk bisa menyelesaikan segala sesuatunya tanpa perlu bergantung kepada orang lain, khususnya untuk hal-hal kecil.



Dec 23, 2013

ISTANBUL adalah Jakarta, JAKARTA adalah Istanbul!!!

Holla Diary Ku.... Suasananya sumpah seru banget Big City, lokasi yang kalau diliat dari fisik bangunan ini termasuk kota yang tua, masyarakatnya ramah dan crowded. Pagi-pagi aktivitas kehidupan dah keliatan. Duduk dari Halte Taksim berlawanan sama Bambi Hotel, Square Hotel seru ngeliat orang lalu lalang, tapi yang paling keren udaranya cocok buat puasa, dingin angin sepoy-sepoy gak ngerasa summer. Seru ngeliat turis-turis baca peta, mulai dari yang bahasanya Inggris, Rusia, Jerman sampai bahasa Jepang. Mereka sibuk dengan komunikasi tubuh sama supir-supir taksi dan kalaupun banyak supir taksi tahu bahasa Inggris mereka tetap menuntut calon penumpangnya untuk berbahasa Turki J.


Bagiku, Istanbul adalah Jakarta, Jakarta adalah Istanbul. Crowdidnya kota Jakarta adalah crowdidnya Istanbul, amburadulnya tata kota Jakarta adalah amburadulnya tata kota Istanbul. Luxurynya Jakarta adalah luxurynya Istanbul.
            2010, tepat tiga bulan sebelum percobaan bom bunuh diri yang diklaim sebagai ulah PKK melukai sekitar 50 orang pengunjung Taksim -sebuah daerah yang menjadi salahsatu pusat kesibukan kota Istanbul-  aku duduk dihalte terminal Taksim Square yang bersampingan dengan pos polisi dimana bom 2010 tersebut diledakan. Suatu pagi yang cerah sepanjang keberadaanku di Turki. Sambil memandang sibuknya pagi di Taksim, padahal hari itu adalah hari minggu, tidak pernah jauh dariku kamera dan laptop yang kugunakan untuk mendokumentasikan setiap gerakanku mengeksplorasi Istanbul pagi itu.

Dec 21, 2013

Demokrasi, Pers dan Ruang Publik

Oleh: Nofia Fitri


Nafas jurnalisme adalah ‘freedom of Speech’ dan ‘freedom of information’ yang tidak lain juga berdiri sebagai prinsip-prinsip tegaknya demokrasi. Dengan demikian negara yang demokrasi adalah negara dengan peran-peran pers yang aktif dan memiliki ‘kebebasan’ dalam menjalankan fungsi-fungsi jurnalistiknya.

Demokrasi memberi ruang seluas-luasnya untuk kebebasan yang beretika dan bertanggungjawab dimana media pers sebagai salahsatu pilar demokrasi memiliki peran mentransformasikan ‘informasi’ demi memberikan pendidikan kepada publik dengan mengedepankan akurasi informasi dan tentu saja ketidakberpihakkan atau netralitas media.
Terpusatnya perhatian masyarakat Indonesia kepada trend demonstrasi menjelang keputusan kenaikan harga BBM  belakangan ini secara tidak langsung juga mencukil  kembali peran kuat media-media pers yang diharapkan dapat menyampaikan informasi dari sumber berita kepada publik.


Negara Demokrasi: Antara Demonstrasi dan Ruang Publik

Setelah kurang lebih satu minggu media cetak dan media elektronik diwarnai potret-potret demokrasi Indonesia. Satu pertanyaan yang muncul dalam kapasitas ruang publik yang kritis adalah “bagaimana media menjaga netralitasnya dalam isu BBM?”

Dec 19, 2013

Batal S2 di UI, Alhamdulillah Master ke Turki

Aku sangat yakin Allah sedang menyiapkan masa depan ku, namun bukan untuk kuraih, melainkan untuk kubentuk dengan usaha ku, dan aku percaya apapun yang Allah inginkan untuk terjadi, maka terjadilah. Karenanya aku berimajinasi dengan bahasa tentang cerita hidupku, bahwa Allah memberi pilihan dalam fantasi, dan aku diizinkan untuk menciptakan masa depan dengan usahaku. Sampai akhirnya kutemukan fantasiku nyata, lahir dari sebuah imajinasi dan kekuatan bahasa. Dan inilah lintas kisahku.... dari Jakarta menuju Famagusta.

Hidup Adalah Seni Memilih

Utara atau selatan, kiri atau kanan, depan atau belakang, maju atau mundur. Terserah, Pilih!!!! kata Belati dalam puisinya.

Kutandai tiga maskot penting dalam hidupku –paling tidak sampai dengan saat ini- kusimpan dan kukenang sebagai tanda dalam perjalanan pencarian ilmu seorang anak bangsa: kaos Mapaba Universitas Nasional, Kartu Ujian S2 Universitas Indonesia, dan Kunci Kantor Riset Asisten Eastern Mediterranean University/EMU, Turki. Mungkin kelak ijazah studi PhD yang distempel Universitas Glasgow sebagai maskot keempat diteruskan gelar Professor dari MIT sebagai yang kelima, dan akan ada yang keenam, ketujuh dan seterusnya. Lintasannya mungkin akan menjadi begitu panjang namun ujungnya adalah sebuah susunan kata dalam bahasa  “surat perintah legal” untuk melayani rakyat yang dikeluarkan oleh negara, Amiin.

Sejak usia lima tahun, pertama kali aku mengenal bahwa belajar itu menyenangkan, aku selalu memimpikan untuk sekolah keluar negeri sekalipun aku tahu keluargaku tidak cukup kaya untuk mendanainya, bahkan orangtuaku memaksakan menempuh satu tahun Sekolah Taman Kanak-Kanak demi menekan biaya, padahal saat aku tidak diizinkan untuk lulus mengingat umurku baru 4 tahun ketika memasuki Sekolah Dasar. Namun dalam perjalanan hidupku aku selalu percaya “banyak jalan menuju Roma” dan filsafat menuntut ilmuku “sampai ke negeri Cina.” Karenanya dalam pengajian Iqro di Madrasah ku dulu, aku selalu menunggu saat-saat dimana pak Ustad  mengingatkan kami tentang pentingnya menuntut Imu dengan mengutip sang Nabi tersebut.